TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Tanggal 14 Mei 2026 kemarin menjadi hari yang berbeda bagi Viman Alfarizi. Usianya genap 39 tahun.
Ucapan selamat mengalir. Dari kolega. Sahabat. Keluarga. Aktivis. ASN. Politisi. Sampai warga biasa yang mengenalnya lewat media sosial.
Sebagian mengucapkan lewat Instagram. Sebagian lewat WhatsApp. Sebagian lagi menulis doa pendek di kolom komentar.
“Sehat selalu Pak Wali.”
“Semoga amanah.”
“Semoga Tasik lebih maju.”
Baca Juga:Panas 43 Derajat Tak Surutkan Kekhusyukan Jamaah Haji asal Kota Tasikmalaya!Dapur MBG dan Iuran yang Berbisik di Kabupaten Tasikmalaya!
Ucapan itu datang ketika Viman tidak sedang berada di ruang kerjanya. Ia sedang jauh. Di Tanah Suci. Menjalankan ibadah haji bersama sang istri, dr. Elvira Kamarrow. Momentum itu terasa simbolik.
Di usia 39 tahun, seorang kepala daerah sedang berdiri di antara dua dunia: dunia muda dan dunia matang.
Belum tua. Tapi juga tidak bisa lagi disebut anak baru. Itulah usia yang unik. Usia yang dalam psikologi kepemimpinan disebut fase prime of leadership.
Fase emas. Energi masih penuh. Ambisi masih menyala. Tetapi pengalaman hidup mulai mengendap.
Banyak kepala daerah justru mencapai titik paling menentukan di usia seperti ini. Masih kuat blusukan dari pagi sampai malam. Masih sanggup rapat panjang. Masih tahan mendengar keluhan warga di gang sempit.
Tetapi seharusnya juga sudah cukup matang untuk tahu mana pencitraan dan mana kerja nyata. Itulah tantangan besar bagi Viman. Sebab yang dipimpinnya bukan perusahaan kecil. Bukan komunitas. Tetapi sekitar 700 ribu warga Kota Tasikmalaya.
Jumlah manusia yang harapannya berbeda-beda. Ada pedagang yang ingin pasar ramai. Ada anak muda yang ingin pekerjaan. Ada guru honorer yang ingin kepastian. Ada warga miskin yang cuma ingin berobat tanpa dipersulit.
Baca Juga:Rangkap Sopian!Diky Candra Jangan Sekadar Jaga Toko
Semua berharap pada wali kotanya. Dan usia 39 membuat ekspektasi itu makin tinggi. Karena rakyat biasanya berpikir sederhana: Kalau masih muda, harusnya kuat bekerja. Kalau muda, harusnya berani berubah. Kalau muda, harusnya lebih dekat dengan teknologi.
Itulah kelebihan pemimpin usia 39 tahun.
Ia bisa diterima dua generasi sekaligus. Generasi senior melihatnya cukup matang untuk dipercaya. Generasi muda merasa ia masih relevan diajak bicara.
