TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Kita membayangkan wajah itu. Wajah seorang seniman. Wajah yang dulu lebih sering muncul dalam layar kaca. Wajah yang akrab dengan humor. Dengan puisi. Dengan kalimat-kalimat lembut.
Kini wajah itu harus berhadapan dengan sampah. Bukan sampah politik. Sampah sungguhan. Yang menumpuk di sudut jalan Kota Tasikmalaya.
Yang menyerbu trotoar. Yang membuat orang menutup kaca mobil saat melintas. Yang kadang lebih cepat berkembang dibanding solusi pemerintahnya.
Baca Juga:Bea Cukai Jabar Sita 2 Juta Batang Rokok Ilegal dalam Operasi Maung PadjajaranMAN 1 Tasikmalaya Berjaya di Olimpiade PPKN Ke-IX 2026 Tingkat Nasional
Nama itu: Diky Candra. Ia ditunjuk menjadi Pelaksana Harian Wali Kota Tasikmalaya menggantikan sementara Viman Alfarizi yang sedang menunaikan ibadah haji.
Tugas Plh memang terbatas. Tidak boleh mutasi pejabat. Tidak boleh bikin kebijakan strategis. Tidak boleh utak-atik APBD. Tidak boleh melahirkan keputusan besar. Bahasa sederhananya: cuma menjaga toko agar tetap buka.
Tapi sejarah sering lahir justru dari orang yang cuma “menjaga toko”. Karena kadang problem daerah bukan kurang aturan. Melainkan kurang gerak. Kurang kemauan. Kurang ketegasan. Dan kurang rasa malu melihat kondisi kota sendiri.
Maka pertanyaannya bukan apa kewenangan Diky? Pertanyaannya: seberapa jauh Diky mau bergerak? Sebab menjadi Plh sering kali jatuh pada jebakan seremonial. Pimpin apel. Tanda tangan surat. Foto rapat. Lalu selesai.
Padahal birokrasi Kota Tasikmalaya hari ini tampaknya sedang butuh energi kejut. Butuh orang yang mampu menggerakkan ASN keluar dari meja.
Turun ke jalan. Melihat sendiri gunungan sampah yang makin meluas. Karena sampah tidak bisa diselesaikan lewat disposisi. Sampah hanya bisa selesai kalau ada gerakan. Dan gerakan membutuhkan komando.
Diky punya modal yang jarang dimiliki birokrat: kedekatan emosional dengan publik. Orang mengenalnya. Masyarakat tidak alergi melihatnya. Ia punya komunikasi yang cair. Itu modal penting.
Baca Juga:Empat Korban Penyiraman Air Keras Masuk Ruang Operasi RSUD dr Soekardjo Kota Tasik, dr Titie Jelaskan KondisiDiduga Jadi Korban Penyiraman Air Keras, Enam Orang Masuk RSUD dr Sokardjo Tasikmalaya
Karena kadang kepala daerah gagal bukan karena kurang pintar, tetapi terlalu jauh dari denyut masyarakat. Dalam waktu singkat ini, Diky mestinya fokus pada hal-hal yang konkret. Bukan sambutan. Bukan keluhan. Apalagi rapat yang menghasilkan jadwal rapat berikutnya.
Minimal ada tiga pekerjaan yang bisa langsung ia lakukan. Pertama: jadikan penanganan sampah sebagai gerakan darurat kota.
