Diky Candra Lepas Kontrol!

Diky Candra
Ilustrasi: AI
0 Komentar

Menjadi kepala daerah memang tidak mudah. Tekanannya besar. Keluhannya datang setiap hari. Masalah kota tidak pernah habis. Belum lagi era media sosial membuat semua gerak pejabat direkam tanpa jeda.

Tapi justru karena itulah seorang kepala daerah atau wakil kepala daerah tidak boleh emosian. Jabatannya milik publik. Bukan milik pribadi.

Saat seseorang duduk di kursi pemerintahan, maka setiap kata dan geraknya dianggap mewakili negara di level paling dekat dengan rakyat.

Baca Juga:39 Tahun Wali Kota Tasikmalaya: Saatnya Menjawab Ekpektasi!Panas 43 Derajat Tak Surutkan Kekhusyukan Jamaah Haji asal Kota Tasikmalaya!

Kalau ia marah di depan umum, publik tidak membaca itu sebagai “manusiawi”. Yang terbaca justru: pemerintah sedang tidak stabil.

Akibatnya panjang. Kepercayaan publik turun. Investor mulai ragu. ASN menjadi takut mengambil keputusan. Karena birokrasi yang dipimpin emosi biasanya melahirkan budaya takut.

Semua akhirnya bekerja dengan pola: asal bapak senang. Tidak ada keberanian menyampaikan data buruk. Tidak ada ruang kritik.

Padahal pemerintahan yang sehat justru dibangun dari keberanian mendengar kenyataan pahit. Emosi juga musuh pengambilan keputusan. Keputusan yang lahir saat marah sering tidak berbasis data.

Lebih banyak ego. Lebih banyak reaksi spontan. Dan biasanya sulit dikoreksi karena gengsi. Padahal lima menit emosi bisa meninggalkan masalah lima tahun.

Program gagal sering lahir dari keputusan tergesa. APBD bocor sering dimulai dari sikap anti kritik. Dan arogansi membuat sistem menjadi macet.

ASN takut bicara. Masyarakat malas melapor. Media terancam dianggap lawan. Akhirnya kepala daerah hidup dalam lingkaran pujian palsu. Padahal di bawahnya banyak masalah yang sengaja disembunyikan.

Lalu bagaimana seharusnya? Marah boleh.

Baca Juga:Dapur MBG dan Iuran yang Berbisik di Kabupaten Tasikmalaya!Rangkap Sopian!

Tapi marahlah kepada sistem, bukan kepada orang. Kalau pelayanan lambat, benahi SOP. Kalau birokrasi lamban, evaluasi organisasinya. Bukan meluapkan emosi kepada warga di depan umum.

Pemimpin juga harus belajar tegas tanpa merendahkan. Tegas itu jelas keputusan dan konsekuensinya. Sedangkan arogan merasa diri paling benar. Bedanya tipis. Dampaknya besar.

Pemimpin yang matang biasanya punya satu kemampuan penting: rem emosi. Minimal jeda tiga detik sebelum bereaksi.

Tiga detik itu sering menentukan apakah seseorang dikenang sebagai negarawan atau sekadar pejabat temperamental. Dan yang paling penting: kritik bukan penghinaan pribadi. Kalau semua dianggap serangan terhadap ego, berarti ego sudah lebih besar daripada jabatan.

0 Komentar