Dan tidak perlu menganggap polemik akan hilang hanya karena beberapa hari tidak ada yang membicarakannya. Masyarakat bisa saja berhenti bertanya.
Tetapi berhenti bertanya tidak selalu berarti sudah mendapatkan jawaban. Kadang-kadang orang hanya lelah.
Pelajaran dari audiensi ini bukan tentang siapa yang paling keras berbicara. Bukan pula tentang siapa yang paling tenang duduk di kursi.
Baca Juga:Lapak Parkir Dadaha Perlu Dipelototi Minimal Sebulan, Untuk Menentukan Potensi dan Target PendapatanPengangkatan Dewas RSUD dr Soekardjo Tasikmalaya Bisa Batal Demi Hukum, Pemkot Disarankan Rekrutmen Ulang
Yang diperlukan adalah tindak lanjut yang bisa diukur. Pemkot perlu menjelaskan dasar hukum dan kronologi pengangkatan.
DPRD perlu menyampaikan hasil pengawasan atau rekomendasinya. Panitia seleksi perlu menjawab pertanyaan mengenai tahapan dan komposisi Dewas. Asep MP, jika berkenan, dapat menjelaskan proses yang diketahuinya serta rencana kontribusinya bagi rumah sakit.
Semua pihak tetap berhak menyampaikan pendapat dan membela posisinya. Namun, pembelaan terbaik bukanlah sekadar mengatakan bahwa semuanya benar.
Pembelaan terbaik adalah menunjukkan mengapa semuanya benar. Kalau memang ada kekurangan, tunjukkan pula bagaimana memperbaikinya.
Sebab RSUD dr Soekardjo tidak membutuhkan polemik yang dipelihara terlalu lama. Rumah sakit itu membutuhkan tata kelola yang kuat, pengawasan yang efektif, dan kepercayaan masyarakat.
Audiensi telah berlangsung. LAKIP telah menyampaikan keberatan. Sekda telah menyatakan akan membawa masukan kepada pimpinan. DPRD telah mendengar.
Asep MP hadir, meski tidak berbicara. Sekarang, giliran keputusan yang berbicara. Sebab dalam polemik Dewas ini, yang paling dibutuhkan bukan tambahan pertemuan. Yang dibutuhkan adalah jawaban yang jelas, tindakan yang terukur, dan keberanian menyelesaikan persoalan sampai tuntas. (red)
