Menurut dia, meluangkan waktu satu jam untuk berzikir menjadi pengingat bahwa rezeki tidak semata-mata bergantung pada aktivitas perdagangan, tetapi juga merupakan karunia Allah SWT yang patut disyukuri dan diikhtiarkan.
Jahid berharap, kegiatan tersebut dapat memberikan ketenangan bagi pedagang, terutama di tengah kondisi pasar yang menghadapi penurunan daya beli masyarakat.
“Walaupun kondisinya sedang sepi atau kurang barang dan segala macam, mudah-mudahan hati para pedagang menjadi tenang dengan adanya zikir dan selawat ini,” tuturnya.
Ia menambahkan, usaha perdagangan tetap membutuhkan kerja keras dan ikhtiar.
Baca Juga:AMI: Kritisnya Kapan-Kapan!Ketidakharmonisan Viman-Diky Jadi Sorotan, ASN Terancam Terjebak Kubu-Kubuan
Namun, doa juga menjadi bagian penting untuk membangun optimisme agar aktivitas ekonomi ke depan semakin berkah.
Jahid mengungkapkan, daya beli masyarakat saat ini dirasakan menurun karena berbagai faktor.
Sementara itu, pasokan barang secara umum masih relatif aman, meski terdapat sejumlah komoditas yang dinilai mengalami kesulitan pasokan atau kenaikan harga.
Salah satu komoditas yang disorot adalah telur. Menurut dia, komoditas yang juga digunakan untuk kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tersebut turut menjadi perhatian pedagang karena kenaikan harga terjadi ketika daya beli masyarakat sedang melemah.
“Imbasnya ke pasar, harga naik, tapi daya beli masyarakat kurang,” katanya.
Selain menjadi ruang penguatan spiritual, Jahid berharap kegiatan tersebut menjadi sarana mempererat hubungan berbagai unsur di Pasar Cikurubuk.
Ia menyebut, kegiatan itu dihadiri sejumlah pihak, termasuk unsur pemerintah dan organisasi kemasyarakatan.
Baca Juga:Dinasti Literasi Komunitas Cermin Tasikmalaya, Wariskan Pengetahuan Bukan KekuasaanKetika Petarung Tarung Derajat Naik Vespa di Kota Tasikmalaya: Kalem, Ramah dan Penuh Santun
Ke depan, Hipatas ingin membangun sinergi bersama pedagang dan berbagai pemangku kepentingan untuk mendorong Pasar Cikurubuk lebih maju, ramai, serta memberikan keberkahan bagi masyarakat yang menggantungkan penghidupan di dalamnya.
Ketua Dewan Penasihat Hipatas KH TB Miftah Fauzi menekankan pentingnya penguatan spiritual sekaligus kebersamaan dalam menyelesaikan persoalan pasar.
Ia mengingatkan bahwa setiap orang perlu menyadari keterbatasan diri dan bersungguh-sungguh dalam menjalani kehidupan.
Di sisi lain, tidak boleh ada pihak yang merasa paling berkuasa atau paling unggul dalam pengelolaan pasar.
“Semua tidak boleh ada yang merasa superior di dalam pasar supaya saling memberikan masukan dalam pengelolaan pasar ini. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi,” jelasnya.
