Dinasti Literasi Komunitas Cermin Tasikmalaya, Wariskan Pengetahuan Bukan Kekuasaan

Wariskan Pengetahuan Bukan Kekuasaan
Pengunjung Galeri Buleud besrwafoto bersama lukisan yang dipamerkan dalam Dinasti Literasi, Sabtu (10/10/2026). Rezza Rizaldi / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Pewarisan kekuasaan dan pewarisan pengetahuan merupakan dua hal yang berbeda.

Jika dinasti politik berbicara tentang keberlanjutan kekuasaan, dinasti literasi justru menuntut kemampuan membaca, berpikir kritis, dan melahirkan karya baru.

Gagasan tersebut diangkat Komunitas Cermin Tasikmalaya (KCT) melalui program seni kebudayaan bertajuk Dinasti Literasi: Peluncuran, Diskusi, dan Alih Wahana Buku di Galeri Buleud, Jalan Pemuda Nomor 1, Kota Tasikmalaya.

Baca Juga:Ketika Petarung Tarung Derajat Naik Vespa di Kota Tasikmalaya: Kalem, Ramah dan Penuh SantunViman Jawab Emosi Diky yang Meledak soal Penataan Dadaha Kota Tasikmalaya!

Ketua Komunitas Cermin Tasikmalaya, Ashmansyah Timutiah, mengatakan, penggunaan istilah dinasti dalam program tersebut merupakan metafora kebudayaan untuk membedakan pewarisan pengetahuan dengan pewarisan kekuasaan.

“Jika dinasti politik cenderung berorientasi pada pewarisan kekuasaan, maka dinasti literasi berbicara mengenai pewarisan pengetahuan, sensitivitas, dan kreativitas,” ujarnya, Sabtu (10/10/2026).

Menurut dia, kekuasaan bisa diwariskan tanpa kompetensi. Sebaliknya, tradisi literasi tidak akan bertahan hanya dengan meneruskan nama atau simbol, tetapi membutuhkan generasi yang mampu membaca, mengkritik, dan menciptakan karya baru.

Gagasan itu menjadi pijakan KCT dalam membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan lintas generasi.

Sebab, kebudayaan tidak cukup sekadar dirayakan melalui acara, tetapi juga perlu dirawat melalui proses membaca, berdiskusi, dan melahirkan gagasan.

Program Dinasti Literasi ini berlangsung selama satu minggu pada 10-17 Oktober 2026. Kegiatan ini mengangkat tiga buku dengan latar tematik dan keterhubungan gagasan yang berbeda.

Ketiganya yakni Remang Jalan ke Surau, antologi puisi karya Acep Zamzam Noor yang diterbitkan Pustaka Jaya; Menyudahi Patah Hati di Akhir Pekan, antologi puisi karya Imana Tahira terbitan Sulur Pustaka; serta Musim Dingin di Cipasung: Kumpulan Permenungan Kontemporer karya Diwan Masnawi yang diterbitkan Basabasi.

Baca Juga:Lumiland Dadaha Resmi Dibuka, Wali Kota Tasik Bidik Efek Ekonomi dan Puluhan Ribu Siswa Bisa Masuk Gratis  Ratusan Barista Kota Tasikmalaya Disertifikasi, Diuji Biar Kopi Enggak Cuma Modal Gaya

Ketiga buku tersebut menjadi pintu masuk untuk membicarakan karya sastra, pengalaman manusia, dan perkembangan pemikiran dalam ruang diskusi publik.

Sejumlah akademisi, penyair, dan pengamat sosial turut dihadirkan untuk memperkaya pembahasan.

Tak berhenti pada peluncuran buku dan diskusi, KCT juga menghadirkan agenda alih wahana.

Melalui pendekatan ini, teks sastra diterjemahkan ke dalam medium seni lain, mulai dari musikalisasi puisi, seni pertunjukan, seni rupa, hingga karya multimedia.

0 Komentar