Alih wahana tersebut membuka kemungkinan bagi karya sastra untuk menjangkau publik yang lebih luas.
Teks yang semula dibaca melalui halaman buku dapat hadir dalam bentuk bunyi, gerak, visual, maupun pengalaman artistik lainnya.
Selama kegiatan berlangsung, Galeri Buleud difungsikan sebagai ruang perjumpaan kebudayaan yang menyediakan pameran karya, ruang baca terbuka, dan arena diskusi informal. Pelajar, seniman, serta masyarakat umum mendapat ruang untuk berinteraksi dan bertukar gagasan.
Baca Juga:Ketika Petarung Tarung Derajat Naik Vespa di Kota Tasikmalaya: Kalem, Ramah dan Penuh SantunViman Jawab Emosi Diky yang Meledak soal Penataan Dadaha Kota Tasikmalaya!
Ashmansyah berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat posisi Galeri Buleud sebagai salah satu ruang tumbuh literasi dan kebudayaan di Kota Tasikmalaya.
Melalui Dinasti Literasi, KCT menawarkan pesan bahwa warisan kebudayaan tidak semestinya berhenti sebagai koleksi buku atau dokumentasi kegiatan.
Pengetahuan perlu dibaca kembali, diperdebatkan, lalu diolah menjadi karya baru.
Sebab, jika kekuasaan bisa bertahan melalui garis keturunan, literasi hanya bisa hidup melalui kesediaan generasi berikutnya untuk terus belajar dan berkarya. (rezza rizaldi)
