TASIK, RADARTASIK.ID – Ada yang menarik dari dunia anak muda. Namanya muda. Semangatnya muda. Organisasinya juga memakai nama yang muda.
Tetapi, ada satu hal yang tidak boleh ikut menua: keberanian mengkritik. Saya sedang membayangkan sebuah organisasi bernama Asosiasi Muda Institute, atau AMI.
Sebuah nama yang terdengar gagah. Ada asosiasi, ada muda, ada institut. Tiga kata yang seolah menjanjikan perkumpulan orang-orang yang berpikir kritis.
Baca Juga:Ketidakharmonisan Viman-Diky Jadi Sorotan, ASN Terancam Terjebak Kubu-KubuanDinasti Literasi Komunitas Cermin Tasikmalaya, Wariskan Pengetahuan Bukan Kekuasaan
Pertanyaannya sederhana: apakah pikiran kritis itu berlaku kepada semua orang, atau hanya kepada orang-orang tertentu?
Sebab, mengkritik itu mudah. Apalagi kalau yang dikritik adalah orang yang tidak dekat dengan kita. Kalimat bisa panjang. Analisis bisa tajam. Kata-kata bisa setajam pisau dapur yang baru diasah.
Tetapi, suasananya biasanya berubah ketika yang harus dikritik adalah orang yang kita kenal. Lebih berubah lagi kalau orang itu punya jabatan. Dan bisa semakin rumit kalau orang itu punya akses yang sewaktu-waktu mungkin kita perlukan.
Tiba-tiba, kritik membutuhkan pertimbangan. Kalimat perlu diperhalus. Kata-kata harus dipilih dengan hati-hati.
Yang tadinya persoalan prinsip, mendadak menjadi persoalan komunikasi. Yang tadinya salah, berubah menjadi kurang tepat.
Yang tadinya harus dievaluasi, berubah menjadi perlu diklarifikasi. Akhirnya, yang paling kritis justru menjadi paling diplomatis. Begitulah. Kadang-kadang, bukan pendapat yang berubah. Hanya keberanian yang sedang menyesuaikan keadaan.
Tentu saja, ini bukan tuduhan kepada AMI. Ini pertanyaan yang layak diajukan kepada setiap organisasi yang ingin disebut independen.
Baca Juga:Ketika Petarung Tarung Derajat Naik Vespa di Kota Tasikmalaya: Kalem, Ramah dan Penuh SantunViman Jawab Emosi Diky yang Meledak soal Penataan Dadaha Kota Tasikmalaya!
Termasuk organisasi yang merasa dirinya paling kritis. Sebab, ukuran kekritisan bukan seberapa keras suara kita ketika berhadapan dengan orang yang tidak kita sukai.
Ukuran kekritisan justru terlihat ketika kita harus menyampaikan kebenaran kepada orang yang kita sukai.
Di situlah ujian sesungguhnya. Kalau kita hanya berani mengkritik lawan, itu bukan keberanian. Itu keberpihakan yang kebetulan memakai bahasa intelektual.
Kalau kita hanya berani membongkar kekurangan pihak yang jauh, tetapi mendadak kehilangan suara ketika persoalan mendekati lingkaran sendiri, itu bukan independensi. Itu selektivitas.
Dan kalau kritik hanya muncul ketika hubungan sedang tidak baik-baik saja, publik pantas bertanya: apakah yang sedang diperjuangkan itu kebenaran atau suasana hati?
