Sebelum bertanya apakah pemerintah sudah konsisten, tanyakan dahulu apakah kritik kita konsisten. Sebelum menuntut pejabat menjelaskan kebijakannya, pastikan kita juga mampu menjelaskan dasar penilaian kita.
Sebelum menyebut orang lain tidak berpihak kepada rakyat, pastikan kita tidak sedang berpihak kepada kepentingan yang lebih sempit.
Sebab, ada ironi yang sering tidak disadari oleh organisasi yang gemar mengkritik: seseorang bisa sangat kritis terhadap kekuasaan, tetapi tidak kritis terhadap kepentingannya sendiri.
Baca Juga:Ketidakharmonisan Viman-Diky Jadi Sorotan, ASN Terancam Terjebak Kubu-KubuanDinasti Literasi Komunitas Cermin Tasikmalaya, Wariskan Pengetahuan Bukan Kekuasaan
Dan itu jauh lebih berbahaya. Maka, untuk AMI, saya punya satu usulan sederhana. Tidak perlu membuat deklarasi independensi yang panjang. Tidak perlu pula memasang slogan idealisme sebesar spanduk kegiatan.
Cukup buktikan satu hal: beranikah AMI menggunakan ukuran yang sama ketika menilai kawan dan lawan?
Kalau berani, silakan kritik siapa saja. Dukung siapa saja yang memang layak didukung. Tolak kebijakan siapa saja yang memang bermasalah.
Kalau belum berani, tidak apa-apa. Setidaknya, jangan terlalu cepat mengklaim diri sebagai penjaga idealisme.
Sebab, menjadi muda itu urusan umur. Menjadi kritis itu urusan pikiran. Menjadi independen itu urusan sikap. Dan menjadi konsisten itu urusan karakter.
Pada akhirnya, masyarakat tidak terlalu membutuhkan organisasi yang selalu punya komentar. Masyarakat membutuhkan organisasi yang komentarnya bisa dipercaya.
Karena suara keras belum tentu menunjukkan keberanian. Kritik pedas belum tentu menunjukkan independensi. Dan nama besar belum tentu mencerminkan kedalaman berpikir.
Baca Juga:Ketika Petarung Tarung Derajat Naik Vespa di Kota Tasikmalaya: Kalem, Ramah dan Penuh SantunViman Jawab Emosi Diky yang Meledak soal Penataan Dadaha Kota Tasikmalaya!
AMI tidak perlu membuktikan bahwa dirinya paling kritis. AMI hanya perlu membuktikan bahwa kritiknya tidak punya dua ukuran.
Sebab, kritik yang hanya tajam kepada lawan dan tumpul kepada kawan bukanlah kompas. Itu hanya pisau yang tahu ke arah mana ia boleh diayunkan.
Untuk itu, Asosiasi Muda Institute (AMI) Kota Tasikmalaya mengundang sejumlah tokoh dan tamu undangan untuk menghadiri kegiatan launching dan pelantikan yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 18 Oktober 2026.
Undangan tersebut tertuang dalam surat bernomor AMI/SEK/EX/KEG/IX/1448-2026, tertanggal 20 September 2026, yang ditandatangani Ketua AMI, Muhammad Jausan Kamil, dan Sekretaris AMI, Jajul Hakim.
Berdasarkan surat undangan, kegiatan tersebut akan dilaksanakan mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai, bertempat di Aula Serbaguna DPRD Kota Tasikmalaya. (red)
