AMI: Kritisnya Kapan-Kapan!

Ilustrasi AMI
Ilustrasi. Olah Digital AI
0 Komentar

Pertanyaan itu memang tidak nyaman. Tetapi, bukankah organisasi intelektual justru harus terbiasa dengan pertanyaan yang tidak nyaman?

Jangan sampai kita rajin menguji kebijakan orang lain, tetapi lupa menguji konsistensi diri sendiri.

Jangan sampai kita menuntut transparansi dari pemerintah, tetapi alergi ketika masyarakat meminta penjelasan tentang sikap kita.

Baca Juga:Ketidakharmonisan Viman-Diky Jadi Sorotan, ASN Terancam Terjebak Kubu-KubuanDinasti Literasi Komunitas Cermin Tasikmalaya, Wariskan Pengetahuan Bukan Kekuasaan

Jangan sampai kita berbicara tentang integritas di panggung, lalu mendefinisikan ulang integritas ketika kepentingan datang bertamu.

Sebab, integritas tidak mengenal jam kerja. Ia tidak hanya berlaku ketika kamera menyala, forum berlangsung, atau mikrofon berada di tangan.

Integritas justru diuji ketika tidak ada tepuk tangan. Ketika tidak ada penonton. Ketika bersikap benar mungkin membuat kita kehilangan sesuatu.

Di situlah bedanya orang yang punya prinsip dengan orang yang sekadar punya pendapat. Pendapat bisa berubah mengikuti angin. Prinsip seharusnya menjadi kompas untuk menentukan arah.

AMI, kalau ingin menjadi ruang intelektual yang diperhitungkan, tidak harus selalu berseberangan dengan pemerintah. Tidak harus pula setiap hari mengeluarkan kritik agar terlihat hidup.

Mendukung kebijakan yang baik adalah sikap kritis juga. Mengakui keberhasilan pihak lain adalah tanda kedewasaan. Mengubah pandangan setelah menemukan fakta baru justru menunjukkan bahwa seseorang mau belajar.

Yang menjadi masalah bukan berubah pikiran. Yang menjadi masalah adalah mengubah standar penilaian demi orang yang berbeda.

Baca Juga:Ketika Petarung Tarung Derajat Naik Vespa di Kota Tasikmalaya: Kalem, Ramah dan Penuh SantunViman Jawab Emosi Diky yang Meledak soal Penataan Dadaha Kota Tasikmalaya!

Kalau kesalahan dilakukan orang lain, kita menyebutnya kegagalan. Kalau kesalahan dilakukan orang dekat, kita menyebutnya kekhilafan. Kalau pihak lain terlambat bekerja, kita menuntut evaluasi. Kalau pihak sendiri terlambat bekerja, kita meminta publik bersabar.

Kalau lawan politik membuat kebijakan yang keliru, kita menganggapnya bukti ketidakmampuan. Kalau kawan politik melakukan hal serupa, kita mendadak menjadi ahli memahami situasi.

Padahal, persoalan publik tidak pernah bertanya siapa kawan kita. Jalan rusak tidak peduli siapa yang memimpin. Pelayanan buruk tidak mengenal warna politik. Pengangguran tidak bisa diselesaikan hanya dengan pidato tentang masa depan.

Masyarakat membutuhkan ukuran yang sama untuk semua pihak. Karena itu, saya kira AMI perlu memiliki satu keberanian tambahan: keberanian mengkritik dirinya sendiri.

0 Komentar