Ia mengakui kemenangan atas Leipzig merupakan malam bersejarah bagi klub dan kota Como.
Namun, Fabregas meminta para pemainnya tetap rendah hati dan tidak melupakan kompetisi domestik.
“Kami harus tetap rendah hati, tenang, dan terus bekerja. Saya berharap kami tidak melupakan Serie A karena itu akan membuat saya marah. Kami harus tampil maksimal setiap tiga hari,” lanjutnya.
Baca Juga:Como Selamatkan Marwah Wakil Italia di Liga Champions, Capello Sanjung Assane DiaoFrancesco Balzani: AS Roma Wakil Italia yang Paling Siap Berprestasi di Liga Champions
Fabregas juga menyadari Como masih memiliki banyak pekerjaan rumah. Skuadnya dihuni sejumlah pemain baru sehingga membutuhkan waktu untuk menemukan koordinasi terbaik, terutama dalam aspek pertahanan.
Tidak semua komentar mengenai Como setelah kemenangan atas Leipzig bernada pujian. Fabio Capello memberikan penilaian lebih kritis, khususnya kepada Nico Paz.
Mantan pelatih AC Milan tersebut menilai gelandang asal Argentina itu belum tampil dalam kondisi fisik terbaik.
Padahal, Paz tetap memberikan kontribusi penting dengan mencatatkan dua assist dalam kemenangan Como.
“Saya tidak terlalu menyukainya malam ini. Dia belum berada dalam kondisi fisik terbaik dan belum memiliki keluwesan pergerakan yang dibutuhkan. Ketika kondisi fisiknya seperti itu, dia bisa menunjukkan semua kemampuannya. Malam ini, Nico Paz bermain sekitar 75 persen dari kemampuannya,” kata Capello.
Di kubu lawan, pelatih Leipzig Martin Demichelis mengakui Como memang tampil lebih baik. Ia terutama kecewa dengan buruknya organisasi pertahanan timnya.
“Pertama-tama, saya ingin mengucapkan selamat kepada lawan karena mereka bermain lebih baik daripada kami. Kami tidak bermain baik ketika kehilangan bola, padahal kami sudah mengenal Como dan cara mereka menggerakkan bola,” ujar Demichelis kepada Sky Sport.
Baca Juga:Gasperini Bangga Kembali ke Liga Champions Bersama AS Roma: Kami Harus Percaya DiriComo Lakoni Debut Bersejarah di Liga Champions, Fabregas: Kami Harus Percaya Bisa Menang
Menurut Demichelis, Leipzig terlalu mudah kehilangan konsentrasi. Mereka sebenarnya mulai menciptakan peluang sejak menit ke-25, tetapi Como mampu menghukum mereka ketika mulai bermain lebih berani.
“Kami bertahan dengan sangat buruk. Kami mulai menciptakan peluang sejak menit ke-25. Dalam pertandingan seperti ini dibutuhkan keberanian. Ketika kami mulai melakukannya, mereka justru mencetak gol kedua,” sesalnya.
Leipzig sempat mengawali babak kedua dengan lebih baik. Namun, Como kembali menghukum mereka melalui serangan berikutnya dan mencetak gol ketiga.
