TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Tasik Muslim Fair 2026 kembali digelar namun dengan konsep yang lebih terkurasi.
Jumlah tenant pada gelaran tahun ketiga ini justru dikurangi menjadi 102 tenant dari sekitar 140-160 tenant pada tahun sebelumnya.
Pengurangan tersebut dilakukan untuk menjaga kenyamanan peserta sekaligus menghindari terlalu banyaknya brand sejenis yang dinilai berpotensi menimbulkan persaingan kurang sehat antar-exhibitor.
Baca Juga:Polemik Mukota KADIN Kota Tasikmalaya Mulai Muncul! Fauzan Tak Lolos Verifikasi, Diduga DijegalDua Nama Berebut Kursi Ketua KADIN Kota Tasikmalaya Sabtu ini
Event Manager Tasik Muslim Fair 2026, Rully Setia Ramdani, mengatakan kurasi tenant dilakukan agar setiap peserta memiliki ruang pasar yang lebih optimal.
“Jumlah tenant kita dikurangi karena memang kita pilih-pilih, kurasi lagi,” kata Rully saat ditemui di Graha Asia usai technical meeting, Kamis (10/9/2026).
“Tahun lalu terlalu banyak brand yang sama, sehingga ada gesekan-gesekan. Kita juga memperhatikan kenyamanan para exhibitor agar bisa lebih dalam, artinya lebih laku di pasarnya,” sambungnya.
Meski jumlah tenant dikurangi, target pengunjung justru dinaikkan. Tasik Muslim Fair 2026 menargetkan mampu mendatangkan hingga 50.000 pengunjung selama empat hari pelaksanaan.
Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 1-4 Oktober 2026 di Graha Asia Plaza Asia, Kota Tasikmalaya.
Target tersebut bukan tanpa dasar. Pada penyelenggaraan tahun sebelumnya, panitia menargetkan 30.000 pengunjung. Namun, realisasinya justru menembus sekitar 35.000 pengunjung dalam empat hari.
“Target tahun ini mudah-mudahan pengunjung bisa mencapai 50.000 pengunjung,” terangnya.
Baca Juga:UMB AI Educator Day 2026 Dorong Digitalisasi SekolahCegah Anemia Remaja Putri, Pemkot Tasikmalaya Gencarkan Aksi Bergizi di Sekolah
Rully menjelaskan, Tasik Muslim Fair menyasar masyarakat muslim di wilayah Priangan Timur, khususnya Kota Tasikmalaya.
Selain menjadi ruang belanja dan kuliner, kegiatan tersebut juga dirancang sebagai ruang edukasi bagi masyarakat.
Tema yang diusung tahun ini adalah Muslim Phoria. Menurut Rully, pesan tersebut ingin menunjukkan bahwa menjadi muslim tidak harus identik dengan suasana yang kaku.
“Sebagai seorang muslim kita tetap harus ceria, menampakkan keislamannya tanpa harus malu dan ragu,” katanya.
Sejumlah kegiatan edukatif juga disiapkan. Di antaranya kajian untuk anak melalui Sakana (Safari Kajian Anak) yang dibagi dalam dua sesi berdasarkan kelompok usia.
Tak hanya anak-anak, orang tua juga akan mendapat ruang untuk mengikuti kajian parenting dan kajian khusus muslimah.
