Becak Listrik Pun Tersenyum!

Becak listrik
Stiker Presiden Prabowo dan Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi menempel pada becak listrik yang diserahkan di Kompleks Brigif beberapa hari lalu. (Ist)
0 Komentar

Becak itu sekarang bukan hanya punya motor listrik. Ia punya cerita. Dan cerita politik biasanya memang lebih panjang daripada jarak tempuh becak.

Pada Selasa, 8 September 2026, Wali Kota Viman Alfarizi menyerahkan 220 unit becak listrik di Bale Kota Tasikmalaya. Penerimanya para pengayuh becak. Terutama yang berusia 55 tahun ke atas.

Ini sebenarnya gagasan yang sangat manusiawi. Orang yang sudah puluhan tahun mengayuh becak diberi bantuan agar tidak harus terus-menerus bertarung dengan tanjakan, panas, hujan, dan usia.

Baca Juga:Ketika Prabowo Minta KartaNU, PCNU Kota Tasik Malah Tak Kebagian Sapa!Prabowo, KDM (part9): Menyeimbangkan Gibran dan Kekuatan Politik Lain!

Kaki manusia ada batasnya. Baterai pun ada batasnya. Bedanya, baterai tinggal dicas. Kaki tidak bisa. Karena itu bantuan, ini mestinya dibaca sebagai penghormatan kepada mereka yang selama bertahun-tahun menggerakkan ekonomi kota dengan tenaga sendiri.

Ada orang yang bekerja dengan laptop. Ada yang bekerja dengan mobil dinas. Ada yang bekerja dengan tanda tangan. Ada pula yang bekerja dengan mengayuh.

Semua sama-sama bekerja. Hanya alat kerjanya yang berbeda. Yang satu bisa berhenti dengan menekan tombol. Yang satu baru bisa berhenti setelah sampai rumah.

Tetapi manusia memang makhluk yang suka memberi makna tambahan. Becak diberikan sebagai alat transportasi. Stiker kemudian memberikan makna politik. Di sinilah filsafat mulai masuk. Sebuah benda tidak selalu berhenti sebagai benda.

Kursi bisa menjadi jabatan. Kopiah bisa menjadi simbol kesalehan. Seragam bisa menjadi kekuasaan. Baliho bisa menjadi harapan. Dan becak listrik bisa menjadi bahan perbincangan.

Padahal becak sendiri tidak pernah meminta ditempeli foto siapa pun. Ia hanya ingin berjalan. Ia tidak peduli siapa presidennya. Tidak peduli siapa wali kotanya. Tidak peduli siapa calon berikutnya.

Becak hanya tahu satu hal: Kalau ada penumpang, jalan. Kalau tidak ada penumpang, menunggu. Mungkin manusia perlu belajar sedikit dari becak. Jangan terlalu banyak bertanya siapa yang difoto. Lebih penting bertanya: siapa yang benar-benar sampai tujuan?

Baca Juga:Revitalisasi Sekolah Tak Dikerjakan Kontraktor, Tapi Swakelola Sekolah!RAJA PLT: Satu Hanafi, Banyak Kursi!

Ada ironi lain. Bantuan ini diberikan kepada para pengayuh becak lanjut usia. Artinya, negara sedang berusaha membuat mereka tetap produktif tanpa harus terlalu memforsir tubuh.

Itu bagus. Tetapi jangan sampai becaknya menjadi lebih modern daripada sistem yang mengurusnya. Jangan sampai motornya listrik tetapi pelayanannya masih manual.

0 Komentar