Jangan sampai baterainya penuh tetapi pendampingannya kosong. Jangan sampai becaknya ramah lingkungan tetapi penghasilannya tetap tidak ramah terhadap kebutuhan keluarga.
Sebab ukuran keberhasilan bantuan bukan ketika pejabat menyerahkan kunci. Ukuran keberhasilannya ketika beberapa bulan kemudian pengayuh becak masih bisa berkata:
“Alhamdulillah, penghasilan saya bertambah.” Bukan: “Stikernya masih bagus.” Itu bedanya seremoni dengan manfaat.
Baca Juga:Ketika Prabowo Minta KartaNU, PCNU Kota Tasik Malah Tak Kebagian Sapa!Prabowo, KDM (part9): Menyeimbangkan Gibran dan Kekuatan Politik Lain!
Dan akhirnya, becak listrik itu memang layak tersenyum. Ia mendapat motor. Ia mendapat perhatian. Ia mendapat stiker. Bahkan mendapat pasangan foto. Tinggal satu yang belum diketahui: Apakah penumpangnya juga akan ikut tersenyum?
Sebab pada akhirnya, becak tidak hidup dari stiker. Becak hidup dari penumpang. Dan rakyat tidak hidup dari foto pejabat. Rakyat hidup dari penghasilan.
Mudah-mudahan 220 becak listrik itu benar-benar membawa para pengayuhnya menuju kehidupan yang lebih ringan. Kalau boleh memilih, biarlah becaknya membawa mereka ke masa depan.
Jangan hanya membawa foto pejabat ke mana-mana. Karena becak adalah kendaraan rakyat. Ia seharusnya mengangkut manusia. Bukan mengangkut ambisi. (red)
