TASIK, RADSIK – Kasus dugaan perundungan di SMAN 3 Tasikmalaya ditangani secara tegas. Pihak sekolah menjatuhkan sanksi berupa skorsing selama beberapa hari kepada enam siswa senior yang diduga jadi pelaku. Sanksi berlaku mulai 29 September hingga 5 Oktober 2026.
Kepala Sekolah, Dra Elin Yuliana, mengatakan keputusan memberikan sanksi telah dibahas bersama orang tua siswa yang terlibat. Menurutnya, sekolah mengambil langkah tersebut sebagai bentuk tindak lanjut atas kejadian yang telah menjadi perhatian publik.
“Setelah dikumpulkan bersama orang tua pelaku, kami memberikan sanksi selama lima hari, terhitung mulai 29 September sampai 5 Oktober 2026,” ujar dia, Selasa (29/9/2026).
Baca Juga:Soal Kasus Siswa SMAN 3 Tasikmalaya, Gubernur Jabar Minta Kepsek Jangan Ragu BertindakDugaan Bullying Siswa SMA di Kota Tasikmalaya, Sekolah Ungkap Awal Mula Perkara
Elin menjelaskan, pemberian sanksi tersebut mengacu pada sejumlah aturan yang berlaku di sekolah. Di antaranya fakta integritas, tata tertib peserta didik, serta surat pernyataan yang sebelumnya telah ditandatangani dan dibubuhi materai. Karena itu, keenam siswa untuk sementara tidak diperbolehkan mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah selama masa sanksi berlangsung.
“Kami melakukan langkah ini sesuai aturan yang ada dan sebagai tindak lanjut dari kejadian yang sempat viral beberapa waktu lalu,” katanya.
Selain memberikan sanksi kepada siswa, pihak sekolah juga meningkatkan pengawasan terhadap sejumlah lokasi yang kerap menjadi tempat berkumpul para pelajar. Salah satunya warung yang dikenal dengan sebutan Warung Babeh. Tujuannya mencegah tempat tersebut kembali menjadi lokasi berkumpul siswa di luar pengawasan sekolah.
Menurut Elin, warung tersebut tidak hanya menjual makanan dan minuman, tetapi juga menyediakan rokok. Kondisi itu dinilai perlu menjadi perhatian karena lokasi tersebut disebut kerap menjadi tempat berkumpul para pelajar.
“Mungkin Warung Babeh menjadi tempat markas berkumpul. Selain menjual mi dan kopi, di sana juga ada rokok. Karena itu kami ingin memutus rantai agar anak-anak tidak kembali berkumpul di tempat yang sama,” tuturnya.
Namun, pengawasan terhadap lokasi tersebut tidak selalu mudah dilakukan. Elin menyebut kondisi warung yang tidak selalu buka membuat pihak sekolah kesulitan melakukan pemantauan secara konsisten.
“Warungnya juga sering kosong, kadang buka dan kadang tidak. Itu yang membuat kami kesulitan. Tetapi kami akan terus memantau pergerakan anak-anak didik kami,” ujarnya.
