Dugaan Bullying Siswa SMA di Kota Tasikmalaya, Sekolah Ungkap Awal Mula Perkara

bullying SMAN 3 Tasikmalaya
Kepala SMAN 3 Tasikmalaya, Dra Elin Yuliani MPd. (ist)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Dugaan bullying terhadap seorang siswa SMAN 3 Tasikmalaya memasuki babak baru.

Pihak sekolah mengungkap, peristiwa pemukulan yang terjadi di luar lingkungan sekolah tersebut diduga bermula dari persoalan siswa kelas 10 yang kemudian berujung pada pemanggilan oleh sejumlah kakak kelas.

Kepala SMAN 3 Tasikmalaya, Dra Elin Yuliani MPd, mengatakan persoalan tersebut bermula ketika seorang siswa kelas 10 melakukan pelanggaran di kelas.

Baca Juga:Budaya Jadi Jalan UMKM Naik Kelas, IFG dan Jamkrindo Perkuat Akses PembiayaanKPU-Bawaslu Akui Tak Verifikasi Langsung Syarat Pendidikan Gibran saat Nyalon Wapres

Aksi siswa itu kemudian direkam oleh temannya dan diunggah ke akun TikTok pribadi.

Video tersebut kemudian diketahui oleh kakak kelas. Menurut Elin, siswa kelas 10 itu selanjutnya dibawa ke ruang Bimbingan dan Konseling (BK) untuk mendapatkan pembinaan.

“Waktu dibawa ke BK, di akhir proses itu sudah diingatkan, jangan diselesaikan atau jangan dilanjutkan di luar,” kata Elin kepada wartawan, Senin (28/9/2026).

Namun, persoalan tersebut diduga berlanjut di luar sekolah. Pada Kamis (24/9/2026), saat siswa kelas 10 akan mengikuti kegiatan kemah di Brigif, korban disebut mendapat pesan melalui WhatsApp agar datang ke sebuah warung yang selama ini menjadi tempat berkumpul sejumlah siswa.

Elin menyebut warung tersebut berada di atas lahan milik Lanud dan selama ini kerap menjadi tempat nongkrong siswa, khususnya setelah pulang sekolah.

Pihak Lanud, kata dia, juga telah datang ke sekolah untuk melakukan pembinaan. Bahkan, keberadaan warung tersebut tengah menjadi perhatian karena berada di atas lahan milik Lanud.

“Sudah diingatkan kemungkinan akan dibongkar,” katanya.

Terkait dugaan kekerasan, Elin menjelaskan pihak sekolah mendapatkan informasi bahwa korban merupakan satu-satunya siswa yang menjadi sasaran pemukulan.

Baca Juga:Moratorium CDPOB Kian Tak Jelas, Regulasi dari Kemendagri Belum AdaSekda Bilang Sederhana, Wali Kota Bilang Beragam!

Berbeda dengan informasi awal keluarga korban yang sebelumnya menyebut kekerasan dilakukan secara bergiliran oleh sekitar 30 orang, pihak sekolah menyebut ada enam siswa yang mengaku melakukan penamparan.

“Korban yang dipukul hanya satu orang. Yang ke sana itu tiga orang kelas 10, harusnya empat orang yang hadir,” katanya.

Ketika ditanya mengenai bentuk kekerasan, Elin menyebut berdasarkan keterangan yang diterima sekolah, tindakan yang dilakukan berupa penamparan.

“Kalau itunya ditampar saja katanya. Hanya ditampar, tidak ada penendangan,” ujarnya.

0 Komentar