Dugaan Bullying Siswa SMA di Kota Tasikmalaya, Sekolah Ungkap Awal Mula Perkara

bullying SMAN 3 Tasikmalaya
Kepala SMAN 3 Tasikmalaya, Dra Elin Yuliani MPd. (ist)
0 Komentar

Komite kemudian mengusulkan Gerakan Orang Tua Mengantar dan Menjemput Anak ke Sekolah, terutama pada waktu tertentu setelah KBM selesai.

Program tersebut dinilai bukan untuk membatasi kemandirian siswa, melainkan memperkuat sinergi antara sekolah, orang tua, komite, dan peserta didik.

Irfan juga mengusulkan pengawasan siswa setelah KBM, pengaturan agar tidak ada pemanggilan junior tanpa sepengetahuan guru, penguatan komunikasi wali kelas dan BK dengan orang tua, serta edukasi mengenai perundungan, tekanan teman sebaya, dan senioritas.

Baca Juga:Budaya Jadi Jalan UMKM Naik Kelas, IFG dan Jamkrindo Perkuat Akses PembiayaanKPU-Bawaslu Akui Tak Verifikasi Langsung Syarat Pendidikan Gibran saat Nyalon Wapres

“Intinya, sekolah bukan hanya tempat belajar saat KBM berlangsung, tetapi juga harus menjadi lingkungan yang aman bagi siswa sebelum mereka benar-benar meninggalkan sekolah,” ujarnya.

Ia mengusung prinsip senior membimbing, bukan menekan; junior menghormati, bukan takut.

Sementara itu, penanganan kasus tersebut telah masuk ke ranah kepolisian.

Kanit PPA Satreskrim Polres Tasikmalaya Kota, Ipda Endang Kusmiran, membenarkan laporan terkait dugaan kekerasan tersebut telah diterima.

“Ada LP-nya. Hari ini kami undang para saksi,” kata Endang saat dikonfirmasi.

Dengan adanya laporan polisi, proses penanganan kasus kini berjalan melalui mekanisme hukum.

Keterangan dari korban, saksi, pihak sekolah, maupun pihak lain yang mengetahui kejadian akan menjadi bagian dari proses pendalaman. (rezza rizaldi)

0 Komentar