Bangun Budaya Literasi, SMPN 2 Tasikmalaya Wajibkan Siswa Baca Buku

smpn 2 tasikmalaya
Jargon SMPN 2 Tasikmalaya yang ditempel di dekat pintu masuk. (Fitriah Widayanti/radartasik.id)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – SMPN 2 Tasikmalaya membangun budaya literasi melalui pembiasaan membaca yang dilakukan secara rutin di lingkungan sekolah. Salah satu program yang diterapkan yakni One Month One Book, yang mewajibkan warga sekolah membaca sedikitnya satu buku setiap bulan.

Program tersebut dirancang untuk menjadikan membaca sebagai bagian dari kebiasaan, bukan sekadar aktivitas yang dilakukan ketika ada tugas dari guru. Dengan target satu buku setiap bulan, siswa diproyeksikan dapat menyelesaikan sedikitnya 12 buku dalam satu tahun.

Kepala SMPN 2 Tasikmalaya, Affi Endah Navilah, mengatakan bahwa pembiasaan tersebut menjadi salah satu cara sekolah menumbuhkan minat baca di kalangan siswa. Menurut dia, upaya membangun budaya literasi perlu dilakukan secara konsisten dan melibatkan seluruh warga sekolah.

Baca Juga:Soal Kasus Siswa SMAN 3 Tasikmalaya, Gubernur Jabar Minta Kepsek Jangan Ragu BertindakDugaan Bullying Siswa SMA di Kota Tasikmalaya, Sekolah Ungkap Awal Mula Perkara

Penerapan program literasi ini juga berjalan beriringan dengan penguatan fungsi perpustakaan sekolah. Pengelolaan perpustakaan terus dibenahi untuk mendukung aktivitas membaca siswa. Perubahan itu, menurut Affi, turut terlihat dari meningkatnya jumlah kunjungan siswa ke perpustakaan.

Kebijakan sekolah yang melarang siswa membawa ponsel juga ikut menciptakan ruang bagi siswa untuk berinteraksi lebih banyak dengan buku dan perpustakaan. Tanpa membawa ponsel selama berada di sekolah, waktu luang siswa dapat dialihkan untuk membaca maupun melakukan aktivitas lain di perpustakaan.

Namun, upaya membangun literasi di SMPN 2 tidak hanya diarahkan pada peningkatan kebiasaan membaca. Sekolah juga mendorong kemampuan menulis dengan melibatkan guru dalam aktivitas kepenulisan.

Sejumlah guru di sekolah tersebut, kata Affi, kini telah menghasilkan karya tulis termasuk kepala perpustakaan SMPN 2 Tasikmalaya yang juga turut aktif menulis. Sehingga aktivitas kepenulisan tidak hanya diperkenalkan kepada siswa sebagai bagian dari pembelajaran, tetapi mulai dilakukan oleh tenaga pendidik di lingkungan sekolah.

Menurutnya, keterlibatan guru tersebut sekaligus memperluas praktik literasi di sekolah. Guru tidak hanya berperan sebagai pihak yang mendorong siswa untuk rutin membaca dan menulis, tetapi juga menunjukkan praktik tersebut melalui karya yang mereka hasilkan.

Affi sendiri berupaya memberikan contoh dengan terlibat langsung dalam kegiatan membaca dan menulis. Ia menilai dorongan kepada siswa dan guru akan lebih bermakna apabila disertai keteladanan dari lingkungan sekolah.

0 Komentar