Komando PBNU di Tangan Cucu Gusdur!

Ketua PBNU
KH Abdul Hakim Mahfudz
0 Komentar

Gus Kikin juga dikenal membawa garis kebangsaan yang kuat. NU, dalam pandangan itu, tidak harus menjadi kendaraan politik praktis.

Tetapi NU tetap harus hadir dalam politik kebangsaan. Bedanya tipis.Namun akibatnya bisa sangat jauh.

Politik praktis mengejar kekuasaan. Politik kebangsaan mengejar kemaslahatan. Karena itu isu Pancasila, NKRI, demokrasi, toleransi, dan moderasi beragama menjadi bagian penting dari cara pandangnya.

Baca Juga:Kebijakan Sering Kontroversi, Kadishub Kota Tasikmalaya Perlu DievaluasiDPP CBN Mendesak Pemkot Tasikmalaya Evaluasi Pajak MBLB

Ia juga menempatkan pesantren bukan sebagai menara yang hanya melihat dunia dari jauh. Pesantren harus turun ke masyarakat. Mengurus pendidikan. Mengurus ekonomi. Mengurus kader.

Dan kalau perlu mengurus persoalan yang sering tidak masuk televisi. Ekonomi umat, misalnya. Koperasi, BMT, pesantrenpreneur dan berbagai bentuk kemandirian ekonomi menjadi pekerjaan rumah yang jauh lebih nyata daripada sekadar berpidato tentang kebangkitan umat.

Sebab umat yang lapar tidak cukup diberi ceramah. Ia juga membutuhkan pekerjaan.

Ada satu bayangan besar yang tentu tidak mungkin dilepaskan dari Gus Kikin. Yakni Gus Dur. Tetapi menjadi cucu Gus Dur juga bisa menjadi beban. Orang akan membandingkan. Cara bicara dibandingkan. Sikap dibandingkan. Pandangan politik dibandingkan.

Bahkan mungkin cara tertawa pun dibandingkan. Padahal setiap zaman membutuhkan gaya kepemimpinannya sendiri. Gus Dur adalah Gus Dur. Gus Kikin adalah Gus Kikin. Yang diwariskan bukan harus gaya bicara. Yang lebih penting adalah keberanian menjaga prinsip.

Dalam soal kebangsaan, toleransi, demokrasi dan posisi NU sebagai rumah besar umat, garis itu terlihat cukup jelas. Gus Kikin juga dikenal pernah menjadi bagian dari komunikasi keluarga Gus Dur dalam isu-isu kebangsaan dan hak asasi manusia.

Tetapi sekarang situasinya berbeda. Ia bukan lagi hanya membawa nama keluarga. Ia membawa nama PBNU. Dan itu jauh lebih berat.

Baca Juga:Kondusivitas Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi, Kadin Kota Tasikmalaya Minta Masyarakat Bijak Menyikapi InformasiJenggot Putih Yanto Oce!

Ada ironi kecil dalam perjalanan Gus Kikin.Ia berangkat dari pesantren yang mengajarkan kesederhanaan. Kini ia harus mengurus organisasi dengan struktur yang sangat besar.

Dari kamar santri menuju meja organisasi nasional. Dari kitab menuju kebijakan. Dari Tebuireng menuju PBNU. Tetapi mungkin memang begitulah pesantren bekerja. Tidak selalu mencetak orang untuk menjadi pejabat.

0 Komentar