Komando PBNU di Tangan Cucu Gusdur!

Ketua PBNU
KH Abdul Hakim Mahfudz
0 Komentar

Pesantren mencetak orang untuk mengabdi. Jabatan kemudian datang belakangan. Pada 31 Agustus 2026, Muktamar ke-35 NU menetapkan Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU 2026-2031 melalui musyawarah AHWA.

Sebelumnya, ia sendiri pernah mengatakan siap dipilih dan siap tidak dipilih. Kalimat yang sederhana. Tetapi cukup khas dunia pesantren. Kalau didorong, berjalan. Kalau tidak didorong, ya kembali mengaji.

Ia juga mengingatkan agar proses pemilihan tidak ditempuh dengan menghalalkan segala cara. Sekarang ia sudah terpilih. Maka pekerjaan sebenarnya baru dimulai. Muktamar selesai. Spanduk akan diturunkan. Kursi-kursi akan dirapikan. Para muktamirin pulang. Tetapi NU tetap tinggal. Dan NU adalah rumah yang sangat besar.

Baca Juga:Kebijakan Sering Kontroversi, Kadishub Kota Tasikmalaya Perlu DievaluasiDPP CBN Mendesak Pemkot Tasikmalaya Evaluasi Pajak MBLB

Gus Kikin mendapat tugas menjadi salah satu orang yang memegang kuncinya. Tugasnya bukan membuat semua orang berpikir sama. Justru memastikan orang yang berbeda-beda tetap mau tinggal serumah.

Karena NU, seperti rumah besar pada umumnya, tidak pernah benar-benar sepi.Ada yang mengaji. Ada yang berdiskusi.Ada yang berbeda pendapat. Ada yang mengurus ekonomi. Ada yang mengurus pendidikan. Ada yang sibuk dengan politik. Dan ada pula yang hanya ingin hidup tenang.

Ketua umumnya harus mampu membuat semuanya merasa: ini rumah saya juga. Mungkin di situlah ujian terbesar Gus Kikin lima tahun ke depan. Bukan sekadar memimpin PBNU.

Tetapi menjaga agar rumah besar itu tetap menjadi rumah. Bukan arena perang. Bukan kendaraan kekuasaan. Dan bukan sekadar papan nama. Melainkan tempat orang datang untuk belajar, bekerja, beribadah, dan pulang dengan perasaan: saya masih bagian dari NU. (red)

0 Komentar