TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Ada orang yang mengejar jabatan. Ada pula orang yang justru didorong jabatan.
KH Abdul Hakim Mahfudz, atau yang lebih akrab dipanggil Gus Kikin, tampaknya masuk kategori kedua.
Ia tidak perlu berlari mengejar kursi Ketua Umum PBNU. Kursi itu yang akhirnya datang kepadanya.
Baca Juga:Kebijakan Sering Kontroversi, Kadishub Kota Tasikmalaya Perlu DievaluasiDPP CBN Mendesak Pemkot Tasikmalaya Evaluasi Pajak MBLB
Pada Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang, nama Gus Kikin muncul sebagai peraih suara terbanyak dalam penjaringan calon Ketua Umum PBNU.
Ia memperoleh 472 suara, mengungguli KH Zulfa Mustofa 262 suara, KH Abdussalam Shohib 261 suara, KH Yahya Cholil Staquf 258 suara, dan KH Abdul Ghaffar Rozin 155 suara.
Lalu lima nama itu masuk ke meja sembilan kiai anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).Di sana tidak ada lagi pertandingan suara.Ada musyawarah. Hasilnya: mufakat. Gus Kikin ditetapkan sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026-2031.
Menariknya, ia bukan orang yang datang dari luar rumah NU. Ia lahir dari dalam rumah itu. Bahkan sangat dalam. Rumahnya adalah Tebuireng.
Dan Tebuireng bukan sekadar nama pesantren. Di sanalah sejarah besar Nahdlatul Ulama berdenyut. Di lingkungan itulah Gus Kikin tumbuh, belajar, mengaji, menyerap tradisi, sekaligus menyaksikan bagaimana seorang kiai mengurus umat.
Gus Kikin lahir di Jombang, 11 Juli 1970.Ia putra bungsu KH Muhammad Mahfudz dan Nyai Hj Nuriyah Abdurrahman Wahid.
Dari garis keluarga, namanya juga bersinggungan langsung dengan sejarah besar NU. Ia adalah cucu KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.
Baca Juga:Kondusivitas Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi, Kadin Kota Tasikmalaya Minta Masyarakat Bijak Menyikapi InformasiJenggot Putih Yanto Oce!
Tetapi justru di sinilah menariknya. Menjadi cucu Gus Dur tentu membawa nama besar.Tetapi nama besar tidak otomatis membuat seseorang menjadi besar.
Nama besar itu seperti kendaraan. Tetap harus ada yang mengemudi. Gus Kikin memilih mengemudikan dirinya melalui pesantren.
Sejak kecil ia mondok di Tebuireng. Ia belajar dari para kiai, termasuk lingkungan keluarga sendiri. Dari tradisi itu ia memperoleh fondasi keislaman yang kuat.
Tetapi ia tidak berhenti di kitab kuning. Ia juga masuk ke dunia pendidikan modern.Ia menempuh pendidikan filsafat dan agama di Universitas Paramadina Jakarta. Setelah itu melanjutkan studi Islam di School of Oriental and African Studies (SOAS), University of London.
