Jadi, kalau diringkas, isi kepalanya cukup unik. Satu sisi pesantren. Satu sisi filsafat.Satu sisi studi Islam Barat. Dan semuanya bertemu di Jombang.
Mungkin itu pula yang membuat cara pandangnya terhadap NU tidak sederhana.NU baginya bukan sekadar organisasi keagamaan. NU adalah rumah besar. Rumah yang penghuninya sangat banyak.
Dan kalau rumahnya terlalu besar, pekerjaan ketua bukan hanya berdiri di ruang tamu. Harus tahu siapa yang bocor atapnya. Siapa yang belum makan. Siapa yang belum sekolah. Dan siapa yang sedang bertengkar di dapur.
Baca Juga:Kebijakan Sering Kontroversi, Kadishub Kota Tasikmalaya Perlu DievaluasiDPP CBN Mendesak Pemkot Tasikmalaya Evaluasi Pajak MBLB
Gus Kikin pernah menyampaikan bahwa NU harus dikembalikan kepada Qonun Asasi, aturan dasar yang menjadi fondasi organisasi sejak awal. Menurutnya, NU adalah gerakan yang dibangun para pendiri dengan ukhuwah, persatuan, dan keteladanan.
Itu menarik. Karena dalam organisasi sebesar NU, kembali ke dasar kadang justru lebih sulit daripada membuat program baru. Membuat slogan baru gampang. Membuat struktur baru juga gampang. Yang sulit adalah memastikan rumah lama tetap berdiri kokoh.
**DARAH PESANTREN, PIKIRAN MODERN
Gus Kikin dikenal sebagai figur yang kuat dalam bidang kaderisasi dan kelembagaan.Sebelum menjadi Ketua Umum PBNU, ia sudah lama berada di dalam mesin organisasi NU. Ia pernah dipercaya sebagai Wakil Ketua Umum PBNU periode 2021-2026 dan menangani bidang kelembagaan serta sumber daya manusia.
Ia juga dikenal aktif dalam pengkaderan.Ini penting. Sebab organisasi sebesar NU tidak cukup hanya memiliki tokoh. NU membutuhkan regenerasi. Kiai boleh sepuh.Tetapi organisasi harus tetap punya anak muda.
Kalau tidak, organisasi bisa menjadi seperti mobil tua: mesinnya masih bagus, tetapi mencari onderdilnya semakin susah. Karena itu, kaderisasi menjadi salah satu kekuatan Gus Kikin.
Ia memahami bahwa NU bukan hanya soal siapa yang menjadi ketua hari ini. Tetapi siapa yang akan mengurus NU sepuluh, dua puluh, bahkan lima puluh tahun mendatang.
Di sinilah pengalaman Tebuireng menjadi modal. Pesantren mengajarkan satu hal yang kadang dilupakan dunia organisasi modern: orang harus dibentuk sebelum diberi jabatan. Bukan jabatan dulu, baru belajar menjadi orang.
