Prabowo, KDM (part 10): Ketika Kader Mulai Memiliki Gravitasi Politik Sendiri

Kdm prabowo
Ilustrasi: AI
0 Komentar

Dalam organisasi biasa, masalah itu disebut konflik kepentingan. Dalam politik, dampaknya bisa jauh lebih besar. Karena yang dipertaruhkan bukan hanya pekerjaan. Tetapi kekuasaan.

Jika popularitas KDM terus meningkat sementara citra pemerintah pusat mengalami penurunan, maka bisa muncul fenomena baru.

Masyarakat tidak lagi melihat KDM hanya sebagai bagian dari keberhasilan pemerintah. Tetapi sebagai figur yang memiliki kekuatan politik sendiri. Di titik tertentu, loyalitas politik dapat mulai bergeser. Bukan lagi hanya kepada institusi. Tetapi kepada figur.

Baca Juga:TPP ASN Dipotong, OJK Tasikmalaya Waspadai Kredit Konsumsi dan NPL PerbankanKronologi Lengkap Perkelahian yang Menyebabkan Tukang Debus di Tasikmalaya Meninggal, Begini Versi Polisi

Dalam teori organisasi, kondisi seperti ini disebut agency drift. Yaitu ketika seorang agen yang awalnya menjalankan kepentingan organisasi perlahan mulai memiliki arah dan kepentingan politik sendiri.

Bukan berarti terjadi konflik terbuka. Tidak selalu. Kadang perubahan itu berlangsung secara alami. Seorang kader semakin populer. Massa semakin banyak.

Elite mulai mendekat. Pengusaha mulai membangun komunikasi. Relawan mulai bergerak. Semua karena melihat peluang masa depan.

Dalam politik, kekuatan tidak selalu lahir dari deklarasi. Kadang ia tumbuh dari persepsi bahwa seseorang memiliki kemungkinan menang. Dan kemungkinan itulah yang menarik banyak orang.

Bagi seorang pemimpin politik, memiliki kader populer adalah keuntungan sekaligus tantangan. Kader yang tidak populer sulit membantu memenangkan pertarungan.

Tetapi kader yang terlalu populer membutuhkan pengelolaan yang lebih cermat. Pemimpin besar bukan hanya mampu melahirkan tokoh. Tetapi juga mampu mengelola tokoh yang lahir dari dalam kekuasaannya.

Sejarah politik menunjukkan banyak pemimpin kuat justru menghadapi tantangan dari orang-orang yang sebelumnya mereka besarkan. Karena kekuasaan memiliki hukum sendiri: Orang yang diberikan panggung bisa suatu saat memiliki penonton sendiri.

Baca Juga:Bantah Pembunuhan, Kuasa Hukum Pelaku Sebut Kasus di Karangjaya Penganiayaan yang Sebabkan Korban MeninggalSoal PPPK PW Naik Jadi Penuh Waktu, Pemkot Tasikmalaya Masih Tunggu Juklak-Juknis Pusat

Pada akhirnya, posisi KDM menjadi menarik karena berada di antara dua kemungkinan. Ia dapat menjadi aset terbesar Gerindra. Figur yang membantu memperkuat Prabowo dan memperluas pengaruh partai.

Namun di sisi lain, ia juga memiliki potensi menjadi pusat gravitasi politik baru apabila dukungan terhadap dirinya tumbuh lebih cepat dibandingkan pusat kekuasaan.

Di situlah kemampuan manajemen politik diuji. Bukan hanya bagaimana membesarkan kader. Tetapi bagaimana menjaga agar kader yang besar tetap menjadi bagian dari kekuatan bersama.

0 Komentar