TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Pemangkasan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Tasikmalaya menjadi perhatian Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tasikmalaya. Pasalnya, ASN masih menjadi salah satu pangsa pasar kredit konsumsi yang diminati perbankan.
Kepala OJK Tasikmalaya Nofa Hermawati mengatakan kredit konsumsi menjadi jenis kredit dengan porsi terbesar di wilayah kerjanya yang meliputi Sumedang hingga Pangandaran. Per Juni 2026, penyaluran kredit konsumsi mencapai Rp30,87 triliun atau 53,06 persen dari total penyaluran kredit.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kredit modal kerja yang mencapai 32,85 persen dan kredit investasi sebesar 14,09 persen.
Baca Juga:Kronologi Lengkap Perkelahian yang Menyebabkan Tukang Debus di Tasikmalaya Meninggal, Begini Versi PolisiBantah Pembunuhan, Kuasa Hukum Pelaku Sebut Kasus di Karangjaya Penganiayaan yang Sebabkan Korban Meninggal
“Salah satu yang menyebabkan besarnya penyaluran kredit konsumsi adalah ASN masih menjadi pangsa pasar yang sangat diminati,” kata Kepala OJK Tasikmalaya saat konferensi pers, Jumat (21/8/2026).
Menurut Nofa, ASN menjadi segmen menarik bagi perbankan karena memiliki profil risiko relatif kecil dan pangsa pasar yang masih terbuka. Hal itu juga terlihat dari struktur kredit perbankan di wilayah Priangan Timur.
Secara keseluruhan, total aset perbankan di wilayah kerja OJK Tasikmalaya yang mencakup tujuh kabupaten/kota mencapai Rp90,94 triliun. Nilai tersebut tumbuh 4,54 persen secara year on year. Dana pihak ketiga mencapai Rp37,13 triliun atau tumbuh 7,60 persen. Sementara penyaluran kredit mencapai Rp58,19 triliun atau tumbuh 3,26 persen.
Nofa mengatakan kinerja perbankan secara umum masih tumbuh positif meskipun kondisi ekonomi cukup berat bagi sebagian masyarakat.
“Secara kinerja perbankan masih bisa tumbuh dengan positif,” katanya.
Namun, OJK tetap menyoroti rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) yang mencapai 156,69 persen atau meningkat 0,12 persen secara year on year. Kualitas kredit juga menjadi perhatian. Rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) di wilayah kerja OJK Tasikmalaya tercatat 4,75 persen. Angka tersebut turun 0,14 persen secara year on year, tetapi sudah mendekati batas 5 persen yang menjadi ambang perhatian.
Kondisi tersebut antara lain dipengaruhi belum pulihnya kemampuan sejumlah debitur dari dampak pandemi Covid-19 secara penuh. Sejumlah kebijakan ekonomi juga dinilai dapat memengaruhi kemampuan bayar debitur.
