TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Dalam politik, hubungan antara pemimpin dan kader tidak selalu sesederhana hubungan antara atasan dan bawahan.
Ada kepentingan. Ada kepercayaan. Ada pertukaran kekuatan. Dan yang paling penting: ada potensi perubahan keseimbangan.
Hubungan Prabowo dan KDM dapat dibaca melalui teori principal–agent. Sebuah teori yang menjelaskan hubungan antara pihak pemberi mandat (principal) dengan pihak yang menjalankan mandat (agent).
Baca Juga:TPP ASN Dipotong, OJK Tasikmalaya Waspadai Kredit Konsumsi dan NPL PerbankanKronologi Lengkap Perkelahian yang Menyebabkan Tukang Debus di Tasikmalaya Meninggal, Begini Versi Polisi
Dalam konteks politik, principal dapat dimaknai sebagai pemimpin partai atau pusat kekuasaan yang memiliki visi dan agenda besar.
Sedangkan agent adalah kader yang diberi ruang untuk menjalankan agenda tersebut di lapangan. Pada awalnya, hubungan ini terlihat sederhana.
Pemimpin memberikan arah. Kader menjalankan. Organisasi mendapatkan keuntungan. Namun persoalan mulai muncul ketika sang agent tidak lagi hanya menjadi pelaksana. Ia mulai memiliki modal sendiri.
Dalam dunia politik, popularitas adalah bentuk kekuasaan. Seorang kader yang awalnya hanya membawa nama besar partai, perlahan bisa memiliki nama sendiri.
Ketika masyarakat mulai mengenal figur lebih dahulu dibandingkan institusi yang menaunginya, maka terjadi perubahan hubungan.
Kader tidak lagi hanya bergantung kepada organisasi. Ia memiliki aset pribadi: Basis massa. Jaringan relawan. Kedekatan emosional dengan pemilih. Kemampuan komunikasi. Bahkan loyalitas publik.
Di titik inilah hubungan principal–agent menjadi menarik. Karena semakin kuat seorang agent, semakin besar pula kemampuannya untuk mengambil keputusan secara mandiri.
Baca Juga:Bantah Pembunuhan, Kuasa Hukum Pelaku Sebut Kasus di Karangjaya Penganiayaan yang Sebabkan Korban MeninggalSoal PPPK PW Naik Jadi Penuh Waktu, Pemkot Tasikmalaya Masih Tunggu Juklak-Juknis Pusat
Dalam perspektif ini, hubungan Prabowo dan KDM sebenarnya memiliki logika saling membutuhkan. Prabowo dan Gerindra membutuhkan figur seperti KDM untuk memperluas jangkauan politik.
KDM memiliki kemampuan komunikasi yang dekat dengan masyarakat. Ia dapat menjadi penghubung antara kebijakan nasional dengan realitas lapangan.
KDM juga mendapatkan keuntungan dari struktur besar Gerindra. Partai memberikan kendaraan politik, jaringan organisasi, dan legitimasi kekuasaan.
Hubungan ini bersifat simbiosis. Prabowo memberikan ruang. KDM memberikan energi elektoral. Selama kepentingan keduanya berjalan searah, hubungan tersebut menjadi kekuatan besar.
Namun teori principal–agent selalu memiliki satu persoalan klasik: Apa yang terjadi ketika kepentingan agent mulai berbeda dengan principal?
