Mahasiswa Umtas Rancang Alat Pembakar Sampah Ramah Lingkungan, Berbahan Bakar Oli Bekas

Mahasiswa kkn umtas, alat pembakar sampah
Mahasiswa KKN Cilamajang A Umtas usai menyerahkan bantuan alat pembakar sampah berbahan bakar oli bekas, Sabtu (23/8/2028)
0 Komentar

KAWALU, RADSIK – Persoalan sampah di kawasan permukiman menjadi perhatian Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Cilamajang A Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (UMTAS). Melalui program pengabdian kepada masyarakat, mahasiswa menghadirkan alat pembakar sampah yang dirancang lebih ramah lingkungan.

Inovasi tersebut secara resmi diserahkan kepada pihak Kelurahan Cilamajang, Kota Tasikmalaya, Sabtu (22/8/2026).

Alat tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat mengurangi volume sampah sekaligus menjadi alternatif teknologi dalam pengelolaan sampah di tingkat lingkungan.

Baca Juga:Pesta Rakyat Pagi Sampai Malam! Warga MPCR Tasikmalaya Peringati Kemerdekaan dengan Kreatif, Rukun dan GembiraRekayasa Lalu Lintas Kelewat Batas! Penutupan Jalan Dadaha Tasikmalaya Mempersulit Akses Mobilitas Warga

Perwakilan Tim KKN UMTAS Cilamajang A, Ipan Aulia Rahman, mengatakan inovasi itu dibuat dengan melihat persoalan sampah yang masih menjadi tantangan di kawasan permukiman padat penduduk.

Menurutnya, alat yang dikembangkan mahasiswa tersebut memiliki konsep pembakaran yang berbeda dengan pembakaran sampah biasa. Sistemnya menggunakan limbah oli bekas sebagai bahan bakar dan dilengkapi dengan teknologi injeksi uap air bertekanan tinggi.

“Alat ini mampu memusnahkan sekitar 13 kilogram sampah dalam waktu satu jam. Artinya, rata-rata satu kilogram sampah dapat dimusnahkan dalam waktu sekitar empat sampai lima menit,” ujar Ipan.

Ia menjelaskan, proses pembakaran menggunakan sistem thermal cracking. Teknologi tersebut bekerja dengan menyemprotkan uap air ke bagian titik api pada suhu lebih dari 800 derajat Celsius.

Proses tersebut bertujuan membantu memecah molekul hidrokarbon dari oli bekas sehingga pembakaran berlangsung lebih optimal.

“Ketika pembakaran dilakukan tanpa injeksi uap, asap hitam masih terlihat. Tetapi ketika kran injeksi uap dibuka, asap pekat tersebut dapat hilang dalam hitungan detik,” jelasnya.

Keunggulan alat tersebut pun diperlihatkan melalui uji coba langsung di hadapan perangkat Kelurahan Cilamajang, tokoh masyarakat, dan warga. Demonstrasi itu dilakukan untuk menunjukkan cara kerja sekaligus manfaat teknologi yang dibawa mahasiswa melalui program KKN.

Baca Juga:Tidak Hanya Modal Tiup Peluit, Juru Parkir Digital Kota Tasikmalaya Berbeda Jauh dengan Jukir IlegalAwal Mula TPP Dipotong: Pernah Ada Skenario 50 Persen dan 10 Persen!

Ipan menuturkan, inovasi tersebut tidak hanya ditujukan untuk menghasilkan sebuah alat, tetapi juga menjadi bentuk kontribusi mahasiswa terhadap persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat.

“Kami tidak ingin kegiatan KKN hanya menjadi formalitas pengabdian akademis. Kami ingin ada kontribusi nyata yang bisa ditinggalkan dan dimanfaatkan masyarakat,” katanya.

0 Komentar