Peta calon ketua KADIN Kota Tasikmalaya masih putih. Belum ada warna. Belum ada bendera. Belum ada deklarasi.
Namun justru fase seperti ini biasanya yang paling menarik. Sebab calon-calon potensial mempunyai dua pilihan.
Muncul lebih awal. Atau diam lebih lama.Yang muncul lebih awal mendapatkan panggung. Tetapi juga lebih cepat ditembak pertanyaan.
Baca Juga:NORMA NETIZEN!Belum Siap Eksekusi, Padahal Sistem dan CCTV Sudah Dibuat untuk Digitalisasi Pengelolaan Parkir di Kota Tasikm
Yang diam bisa bekerja lebih tenang. Tetapi kalau terlalu lama diam, orang lain bisa lebih dulu mengambil ruang.
Dalam organisasi pengusaha, pertarungan juga tidak selalu berbentuk kampanye.
Kadang bentuknya silaturahmi. Kadang makan siang. Kadang rapat. Kadang sekadar bertanya: “Menurut Anda, KADIN ke depan sebaiknya bagaimana?. Pertanyaan itu tampak seperti pertanyaan biasa.
Padahal bisa saja sedang mengukur suhu.Yang Diperebutkan Bukan Sekadar Kursi Ini yang sering dilupakan. Ketua KADIN bukan sekadar gelar organisasi. KADIN adalah rumah bagi dunia usaha.
Karena itu, siapa yang menjadi ketua akan menentukan bagaimana organisasi berhubungan dengan pemerintah daerah, bagaimana kepentingan pengusaha disuarakan, dan sejauh mana KADIN mampu menjadi jembatan antara dunia usaha dengan kebijakan publik.
Maka pertarungan sesungguhnya bukan hanya: Siapa menjadi ketua? Tetapi: KADIN mau dibawa ke mana? Itu pertanyaan yang lebih penting.
Apakah KADIN hanya sibuk dengan acara internal? Ataukah benar-benar menjadi rumah advokasi pengusaha? Apakah suara pengusaha kecil akan terdengar? Apakah dunia usaha lokal mendapat ruang lebih besar dalam pembangunan daerah?
Apakah KADIN mampu berbicara ketika kebijakan pemerintah justru membuat pelaku usaha semakin sulit?
Baca Juga:Kalau Memang Ada, Gubernur Jabar KDM Minta BPN Pangandaran Membatalkan Sertifikat Harim Laut Pantai MadasariDigitalisasi Parkir Kota Tasikmalaya Baru Sebatas Mimpi, Vendor: Jangan Dipaksa Seragam
Dan apakah KADIN bisa menjadi tempat bertemunya pengusaha besar, menengah, kecil, pengusaha lama, dan generasi baru?
Kalau pertanyaan-pertanyaan itu tidak dijawab, pergantian ketua hanya akan menjadi pergantian foto di dinding.
Kalau melihat pola umum organisasi, calon ketua biasanya datang dari dua tipe. Pertama, orang yang memang ingin memimpin.
Ia datang dengan gagasan. Ia ingin membangun organisasi. Ia ingin meninggalkan sesuatu setelah masa jabatannya selesai.
Kedua, orang yang didorong untuk memimpin. Awalnya tidak terlalu berminat.Lalu beberapa orang datang. Bilang: “Bapak harus maju.”
