Eko juga mengenalkan penggunaan alat komunikasi tahan air untuk memperkuat koordinasi antar-pemandu dan antarpos. Perangkat tersebut dibutuhkan ketika terjadi perubahan kondisi jalur, peserta memerlukan pertolongan, atau tim harus mengambil keputusan dengan cepat sehingga penanganan di lapangan dapat dilakukan lebih efektif.
Selain itu, pemantauan cuaca dan debit air sungai menjadi bagian penting dalam pelatihan. Informasi tersebut menjadi dasar untuk menentukan apakah kegiatan dapat dilaksanakan, ditunda, atau dihentikan. Menurut Eko, keputusan operasional harus selalu menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama.
Sementara itu, Yogi Firmansyah menilai materi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan pemandu di lapangan. Menurutnya, pemandu kerap menghadapi wisatawan dengan tingkat pengalaman dan kesiapan yang berbeda sehingga pembekalan mengenai komunikasi dan penanganan peserta sangat membantu dalam menentukan pendekatan yang tepat.
Baca Juga:Minta Tolong ke KDM, TKW Asal Tasikmalaya Curhat Gajinya 14 Tahun Belum Dibayar dan Tak Bisa PulangHMI Tasikmalaya dan Misteri Hibah!
Yogi juga menilai penggunaan manifest digital dan skrining kesehatan membuat pekerjaan pemandu lebih tertib. Informasi peserta yang tersedia sejak awal memudahkan tim mengenali kebutuhan pendampingan, membagi kelompok, dan menyiapkan langkah antisipasi. Sistem tersebut dinilai mampu mendukung pelayanan tanpa mengurangi peran pemandu dalam melakukan pemeriksaan langsung.
Ia menambahkan, pelatihan ini juga menjadi sarana menyamakan pemahaman mengenai standar pelayanan. Keseragaman prosedur dinilai penting agar kualitas pendampingan tetap konsisten di setiap kelompok serta memudahkan pengelola melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan. (rls)
