Unsil Bekali Pemandu Body Rafting Pangandaran dengan Pelayanan Prima dan Digitalisasi

pelatihan pemandu body rafting Pangandaran
Tim pengabdian dosen Unsil berfoto bersama para pemandu wisata body rafting di Pangandaran. (istimewa)
0 Komentar

Menurutnya, pemandu harus menggunakan bahasa yang sederhana, intonasi yang tenang, dan instruksi yang jelas, terutama saat menghadapi situasi yang membutuhkan respons cepat.

Eko menjelaskan bahwa pelayanan prima dalam wisata petualangan tidak dapat dipisahkan dari aspek keselamatan. Keramahan tetap diperlukan, tetapi pemandu juga harus tegas saat menyampaikan larangan, prosedur penggunaan perlengkapan, posisi tubuh di air, hingga langkah yang harus dilakukan apabila peserta terpisah dari kelompok.

Ia menambahkan, karakter wisatawan sangat beragam. Ada yang sudah terbiasa mengikuti wisata petualangan, namun tidak sedikit yang baru pertama kali mencoba body rafting. Sebagian wisatawan juga memiliki rasa cemas terhadap arus sungai, mengalami kelelahan, atau membutuhkan pendampingan khusus karena kondisi kesehatan tertentu.

Baca Juga:Minta Tolong ke KDM, TKW Asal Tasikmalaya Curhat Gajinya 14 Tahun Belum Dibayar dan Tak Bisa PulangHMI Tasikmalaya dan Misteri Hibah!

Karena itu, pemandu perlu mampu mengenali tanda-tanda ketakutan, kepanikan, kelelahan, maupun gangguan kesehatan yang dapat memengaruhi kemampuan peserta. Jika menemukan kondisi tersebut, pemandu diharapkan dapat menenangkan wisatawan, menyesuaikan bentuk pendampingan, serta berkoordinasi dengan anggota tim lain sebelum situasi berkembang menjadi risiko yang lebih besar.

Selain peningkatan pelayanan, peserta juga diperkenalkan dengan digitalisasi standar operasional prosedur (SOP). Teknologi dimanfaatkan untuk mendukung pencatatan data wisatawan, pemeriksaan perlengkapan keselamatan, penyampaian briefing, pemantauan kondisi sungai, hingga penyusunan laporan kegiatan agar pengawasan dan evaluasi lebih mudah dilakukan.

Salah satu penerapannya adalah penggunaan manifest digital sebelum pengarungan. Data tersebut memuat identitas peserta, jumlah anggota kelompok, pembagian pemandu, serta informasi administrasi yang berkaitan dengan perlindungan wisatawan sehingga tidak ada peserta yang terlewat dalam pencatatan maupun pemeriksaan.

Wisatawan juga diperkenalkan dengan formulir skrining kesehatan berbasis kode QR. Informasi mengenai riwayat penyakit, seperti gangguan jantung atau asma, dapat menjadi dasar bagi pemandu untuk memberikan perhatian khusus. Skrining awal tersebut bukan untuk menggantikan pemeriksaan medis, melainkan membantu tim mengenali potensi risiko sebelum kegiatan dimulai.

Materi briefing juga dapat disampaikan melalui perangkat digital yang menampilkan peta jalur, titik rawan, prosedur keselamatan, posisi tubuh saat terbawa arus, hingga edukasi menjaga kebersihan lingkungan. Dengan cara itu, setiap kelompok memperoleh informasi yang sama sebelum memasuki jalur pengarungan.

0 Komentar