Menurutnya, momentum itu menjadi saat yang tepat untuk menyambut para alumni yang memasuki babak baru kehidupan, sekaligus menguatkan bahwa mereka tetap menjadi bagian dari keluarga besar Miftahul Huda.
“Touring ini bukan sekadar perjalanan menggunakan sepeda motor. Kami ingin nganjang kepada saudara-saudara kami, khususnya para alumni yang baru lulus dan diwisuda. Kami ingin menyapa mereka, mempererat silaturahmi, sekaligus menunjukkan bahwa setelah keluar dari pesantren, ikatan persaudaraan itu tidak pernah putus,” ujar Dede Muksit Aly.
Ia menuturkan, tradisi nganjang merupakan bagian dari budaya silaturahmi yang selama ini dijaga oleh para alumni Miftahul Huda. Karena itu, konsep tersebut sengaja dihadirkan dalam agenda touring HMCI agar perjalanan memiliki nilai yang lebih bermakna daripada sekadar mencapai tujuan.
Baca Juga:Langkah Berani Asep Muslim: Tolak Baju Adat Baru, Dorong Efisiensi Anggaran DPRD TasikmalayaUlama dan Ormas Islam Datangi DPRD Kabupaten Tasikmalaya, Ajukan Naskah Akademik Raperda Ketahanan Keluarga
Menurut Dede, banyak alumni Miftahul Huda yang kini mengabdi dan berkarya di berbagai daerah di Indonesia. Kondisi tersebut membuat kesempatan untuk bertemu secara langsung menjadi tidak mudah. Melalui touring, para anggota HMCI ingin menghadirkan ruang pertemuan yang penuh kehangatan, sehingga komunikasi dan rasa kekeluargaan tetap terpelihara.
“Kami ingin perjalanan ini menjadi pengingat bahwa sejauh apa pun jarak memisahkan, kami tetap satu keluarga besar. Sepeda motor hanyalah sarana, sedangkan tujuan utamanya adalah mempererat ukhuwah dan menjaga silaturahmi antarsesama alumni,” katanya.
Touring bertajuk “Ngarah, Nganjang Rasa Hamida” juga diharapkan menjadi inspirasi bahwa sebuah komunitas otomotif dapat memberikan manfaat yang lebih luas.
Hobi berkendara dipadukan dengan semangat kebersamaan, kepedulian, serta nilai-nilai yang diwariskan dari lingkungan pesantren. Dengan demikian, setiap perjalanan bukan hanya meninggalkan jejak ban di atas aspal, tetapi juga menghadirkan jejak persaudaraan yang terus tumbuh dan menguat.
Bagi keluarga besar HMCI, perjalanan menuju Lampung bukanlah akhir dari sebuah touring. Justru di sanalah tujuan sesungguhnya dimulai, ketika tangan saling berjabat, pelukan kembali terjalin, doa-doa dipertemukan, dan kenangan masa mondok kembali hidup dalam suasana penuh kehangatan.
Sebab pada akhirnya, perjalanan terindah bukanlah tentang seberapa jauh roda berputar, melainkan seberapa erat persaudaraan yang terus dirawat sepanjang perjalanan. (yfi)
