Ngaruat Simbol Nagara, Cara Warga Cintarasa Tasikmalaya Rawat Nasionalisme Akar Rumput Jelang HUT RI 

Ngaruat Simbol Nagara
Warga Cintarasa Tasikmalaya saat melakukan persiapan Ngaruat Simbol Nagara, Jumat (31/7/2026). istimewa for radartasik.id
0 Komentar

Bagi panitia, payung tersebut melambangkan kehadiran negara yang mengayomi masyarakat sekaligus menegaskan bahwa menjaga persatuan tidak dapat dilakukan sendiri-sendiri.

Kolaborasi pemerintah, aparat dan masyarakat menjadi fondasi utama dalam memperkuat kehidupan berbangsa.

Pemilihan lingkungan RW sebagai lokasi kegiatan juga memiliki makna tersendiri.

Panitia meyakini nasionalisme justru tumbuh dari ruang-ruang terkecil, mulai dari keluarga, lingkungan RT dan RW hingga komunitas.

Baca Juga:Kapolres Tasikmalaya Kota Berganti! Estafet Kepemimpinan Berlanjut, Sentuhan Humanis Tetap MenyalaSule Syuting Layanan Masyarakat Soal Anti Korupsi di Kota Tasikmalaya, Libatkan Pelajar dan Seniman Lokal

Di tengah berbagai tantangan sosial, kampung menjadi ruang paling nyata untuk menanamkan kepedulian terhadap bangsa.

Sebab, Indonesia tidak hanya dijaga melalui kebijakan besar, tetapi juga lewat kebiasaan kecil yang terus dipelihara masyarakat.

Ketua RW 01 Cintarasa, Harniwan Obech, menilai peringatan kemerdekaan seharusnya menjadi media pendidikan karakter, bukan sekadar agenda seremonial.

“Bangsa yang besar lahir dari masyarakat yang menghargai sejarah dan menghormati simbol negaranya. Kami ingin RW 01 Cintarasa menjadi ruang belajar bersama bahwa nasionalisme harus tumbuh dari keluarga, lingkungan, dan komunitas,” tuturnya.

Ia menegaskan konsep Ngaruat Simbol Nagara bukan untuk mengagungkan simbol negara sebagai benda, melainkan mengajak masyarakat menghidupkan kembali nilai-nilai yang dikandung Merah Putih dan Garuda Pancasila.

“Bendera Merah Putih adalah saksi perjuangan bangsa, sedangkan Garuda Pancasila menjadi pedoman hidup bernegara. Yang harus dibersihkan bukan hanya simbolnya, tetapi juga hati, pikiran, dan perilaku kita agar semangat persatuan, toleransi, gotong royong, dan kepedulian sosial tetap terjaga,” bebernya.

Harniwan berharap kegiatan tersebut dapat menginspirasi lingkungan lain untuk menghadirkan peringatan kemerdekaan yang lebih edukatif.

Sebab, menurutnya, nasionalisme tidak selalu lahir dari panggung-panggung besar.

Baca Juga:Defisit Anggaran Dekati Rp200 Miliar, DPR RI Minta Pemkot Tasikmalaya Bongkar Ulang APBD 2026Edukasi Gizi Lewat Demo Masak Cegah Stunting, Poltekkes Tasikmalaya Dorong Keluarga Manfaatkan Pangan Lokal

Dari sebuah kampung di Kota Tasikmalaya, warga RW 01 Cintarasa ingin menunjukkan bahwa menjaga Indonesia bisa dimulai dari langkah sederhana.

Ketika nilai Pancasila tetap hidup di lingkungan terkecil, fondasi bangsa pun akan semakin kokoh.

Sebuah pengingat bahwa Merah Putih bukan sekadar berkibar di tiang, melainkan harus tetap berkibar di hati setiap warga negara. (rezza rizaldi)

0 Komentar