Rencana buyback dengan nilai maksimal hingga Rp 8 triliun sebelumnya telah memperoleh persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan dijadwalkan mulai berjalan pada bulan ini.
Langkah tersebut dinilai dapat menjadi salah satu upaya perusahaan untuk meningkatkan nilai bagi pemegang saham, terutama ketika harga saham berada pada tingkat yang dianggap menarik.
Walaupun tekanan pada semester pertama 2026 cukup besar, prospek Astra International masih dinilai positif. Pemulihan bisnis United Tractors, peningkatan aktivitas pertambangan, serta keberlanjutan pertumbuhan otomotif dan jasa keuangan menjadi faktor penting yang dapat menopang kinerja perusahaan.
Baca Juga:MAPI Cetak Laba Bersih Rp 1,2 Triliun di Semester I 2026, Pendapatan Melampaui EkspektasiSharp Indonesia Perluas Program Sharp Class, Perkuat Pendidikan Vokasi dan Cetak SDM Siap Kerja
Dengan asumsi tidak terdapat tambahan beban satu kali yang signifikan, serta adanya perbaikan operasional pada anak usaha utama, Astra masih berpotensi mencapai target laba bersih sekitar Rp 28 triliun hingga Rp 29 triliun sepanjang 2026.
Kinerja semester kedua akan menjadi periode penting bagi Astra International untuk membuktikan kemampuan perusahaan dalam melakukan pemulihan setelah menghadapi tekanan dari sektor komoditas dan pertambangan. (snd/stb)
Sumber: Stockbit
