Ada ruang untuk bisnis. Ada ruang untuk masyarakat. Ada ruang untuk norma. Dan semuanya harus bertemu di satu titik: aturan.
Karaoke yang tumbuh tanpa suara. Pada akhirnya, mungkin inilah kisah paling unik dari karaoke di Tasikmalaya.
Ia tumbuh tanpa banyak suara. Tidak ada seremoni. Tidak ada pesta pembukaan.
Tidak ada pejabat yang menggunting pita. Tetapi perlahan jumlahnya bertambah.
Baca Juga:Dua Telepon Tak Pernah Diam!Dari Medan Perang ke Mimbar Pesantren!
Dari empat menjadi delapan. Dari yang dulu dianggap sesuatu yang sensitif, kini mulai menjadi bagian dari pilihan hiburan.
Tetapi jangan salah membaca angka. Delapan bukan berarti sukses. Delapan juga bukan berarti gagal. Delapan hanya menunjukkan bahwa ada delapan pelaku usaha yang berani mencoba.
Mereka mungkin sedang mengenang masa ketika karaoke pernah menjadi bisnis yang setiap malam ramai. Atau mungkin mereka sedang bertaruh pada masa depan.
Hanya saja, untuk sementara, masa depan itu masih sepi. Room sudah tersedia. Mikrofon sudah menyala. Daftar lagu sudah lengkap. Lampu sudah berwarna-warni. Tinggal pelanggan.
Yang belum tentu datang. Dan mungkin itulah ironi paling Tasikmalaya: karaoke-nya bertambah, tetapi suara orang bernyanyi belum tentu bertambah. (red)
