TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Potensi sumber daya manusia serta beragam produk unggulan yang dimiliki Kota Tasikmalaya dinilai belum cukup untuk menarik investasi dalam skala besar.
Kemudahan akses menuju daerah dan kepastian tata ruang masih menjadi dua faktor yang dipertimbangkan investor sebelum memutuskan menanamkan modal.
Penjabat (Pj) Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Tasikmalaya, Asep Saepulloh, mengatakan aksesibilitas masih menjadi tantangan utama dalam meningkatkan daya saing investasi daerah.
Baca Juga:Perry Warjiyo Mundur dari BI, Kenapa IHSG Langsung Berubah Arah? Ini Penjelasan AnalisBadan Gizi Nasional Bekukan 833 SPPG, Ada Temuan Keracunan hingga Dugaan Penyelewengan Dana
Menurutnya, investor umumnya akan mempertimbangkan kemudahan konektivitas sebelum memutuskan membangun usaha di suatu wilayah.
“Aksesibilitas menjadi salah satu faktor utama. Baik itu jalan tol maupun bandara, itu akan sangat memengaruhi keputusan investor,” ujarnya.
Asep menuturkan, produk-produk unggulan asal Kota Tasikmalaya sejatinya telah dipasarkan ke berbagai daerah, terutama Jakarta.
Kualitas produk tersebut bahkan mampu menarik minat buyer maupun investor untuk datang langsung ke Tasikmalaya guna melihat proses produksi sekaligus menjajaki peluang kerja sama dan pengembangan usaha.
Namun, ketertarikan tersebut kerap dihadapkan pada persoalan lamanya waktu tempuh menuju Kota Tasikmalaya.
Menurutnya, tidak sedikit buyer maupun investor yang mengeluhkan perjalanan dari Jakarta ke Tasikmalaya yang masih memakan waktu sekitar enam hingga tujuh jam melalui jalur darat.
Kondisi tersebut tidak terlepas dari belum terkoneksinya Kota Tasikmalaya dengan jaringan jalan tol.
Baca Juga:BTPN Syariah Kirim Sinyal Positif, Laba Naik dan Kredit Bermasalah Turun DrastisPerry Warjiyo Mundur dari BI, Destry Ungkap Alasan Rupiah dan Ekonomi Tetap Aman di Tengah Transisi
Sementara itu, layanan penerbangan komersial melalui Lanud Wiriadinata juga belum dapat beroperasi secara berkelanjutan sehingga pilihan akses menuju kota ini masih terbatas.
Menurut Asep, konektivitas yang baik saja belum cukup untuk meningkatkan daya tarik investasi. Investor juga membutuhkan kepastian mengenai kawasan yang dapat dikembangkan sebagai lokasi usaha.
Karena itu, ia memandang keberadaan kawasan ekonomi khusus atau kawasan yang disiapkan secara khusus untuk investasi menjadi bagian penting dalam membangun iklim usaha yang kompetitif.
“Kenapa harus ada Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) karena investor itu yang menyerap tenaga kerja banyak akan melihat kawasan mana yang mereka bisa berinvestasi dan tentu di situ ada kebijakan-kebijakan apa,” ungkapnya.
