RADARTASIK.ID – Kinerja Bank BTPN Syariah (BTPS) mengawali tahun 2026 dengan catatan positif. Di tengah tekanan margin pendapatan dan tantangan ekonomi yang masih membayangi, bank syariah yang fokus pada pembiayaan inklusif ini berhasil membukukan pertumbuhan laba berkat perbaikan kualitas aset dan penurunan beban pencadangan.
Dilansir Stockbit, berdasarkan laporan kinerja kuartal I 2026, BTPS mencatatkan laba bersih sebesar Rp 319 miliar, meningkat 3 persen secara tahunan (year on year/YoY) dan naik 25 persen dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter on quarter/QoQ). Capaian tersebut dinilai masih berada dalam jalur ekspektasi pasar karena telah mencerminkan sekitar 24 persen dari estimasi laba bersih konsensus sepanjang 2026.
Perbaikan Kualitas Aset Dorong Penurunan Beban Provisi BTPS
Dalam catatan Everson Sugianto, Investment Analyst Stockbit, salah satu faktor utama yang menopang pertumbuhan laba BTPS adalah membaiknya kualitas pembiayaan. Penurunan beban provisi menjadi katalis penting setelah indikator risiko pembiayaan menunjukkan tren perbaikan.
Baca Juga:Perry Warjiyo Mundur dari BI, Destry Ungkap Alasan Rupiah dan Ekonomi Tetap Aman di Tengah TransisiBukan Cuma Taktik, Ini Senjata Rahasia John Herdman yang Bisa Bawa Timnas Indonesia Taklukkan Kamboja
Beban provisi BTPS pada kuartal I 2026 tercatat turun hingga 37 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi ini sejalan dengan penurunan Cost of Credit (CoC) yang berada di level 5,4 persen, jauh lebih rendah dibandingkan 9,6 persen pada kuartal IV 2025 dan 8,1 persen pada kuartal I 2025.
Penurunan biaya kredit tersebut juga didukung oleh membaiknya rasio pembiayaan bermasalah. Non Performing Financing (NPF) gross BTPS turun menjadi 2,85 persen, dibandingkan 2,92 persen pada akhir 2025 dan 3,56 persen pada kuartal pertama 2025.
Selain itu, nilai write-off atau penghapusbukuan pembiayaan bermasalah juga mengalami penurunan hingga 42 persen secara tahunan. Hal ini menunjukkan adanya perbaikan dalam kualitas portofolio pembiayaan yang menjadi fokus utama manajemen.
Meski demikian, BTPS tetap mewaspadai sejumlah risiko eksternal. Manajemen terus memantau dampak kelangkaan bahan bakar di sejumlah wilayah operasional yang berpotensi memengaruhi kemampuan pembayaran nasabah.
Tekanan inflasi juga diperkirakan belum langsung terlihat dalam kualitas aset karena dampaknya cenderung muncul dengan jeda waktu. Manajemen memperkirakan efek tersebut dapat tercermin sekitar enam bulan setelah terjadi perubahan kondisi ekonomi.
Restrukturisasi Pembiayaan Pascabanjir Sumatra Mulai Menurun
Dampak banjir di wilayah Sumatra pada akhir 2025 juga menjadi perhatian BTPS. Namun, kondisi pemulihan nasabah menunjukkan perkembangan lebih baik dari perkiraan awal.
