TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Dinamika menjelang pergantian kepemimpinan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tasikmalaya mulai menghangat.
Di tengah proses regenerasi organisasi, suara kritis muncul agar HMI tetap berdiri sebagai organisasi kader yang independen, bukan panggung untuk menitipkan kepentingan politik maupun kekuasaan.
Ketua HMI Komisariat Tarbiyah Cipasung, Mutaqin An-Nawawi, mengingatkan bahwa HMI bukan milik kelompok, kampus atau kepentingan tertentu.
Baca Juga:Kemarau Belum Usai, SDN 2 Kersanagara Kota Tasikmalaya Ajak Siswa Menengadah Lewat Salat IstisqaRoket Indonesia Gandeng Everpro, Layanan Kurir Instan JNE Bidik Penguatan UMKM lewat Teknologi
Organisasi tersebut, menurut dia, merupakan ruang bersama bagi seluruh kader HMI Cabang Tasikmalaya.
Apalagi, kader HMI Cabang Tasikmalaya berasal dari 13 kampus yang tersebar di wilayah Kota dan Kabupaten Tasikmalaya.
Karena itu, proses menentukan arah organisasi semestinya tidak dikendalikan oleh kepentingan segelintir pihak.
“Organisasi kader HMI sebagai wadah bukan hanya untuk sebagian kader, melainkan untuk semua kader HMI Cabang Tasikmalaya. Cabang ini milik semua kader,” ujar Mutaqin dalam rilis yang diterima Radar, Jumat (25/9/2026).
Menurut dia, independensi menjadi bagian penting yang harus dijaga dalam proses kaderisasi maupun pergantian kepemimpinan.
Kader dituntut memiliki pola pikir sistematis, objektif dan orisinal dalam menentukan arah organisasi.
Mutaqin juga mengingatkan agar HMI tidak mudah terseret kepentingan eksternal. Termasuk kepentingan politik maupun kekuasaan di tingkat daerah.
Baca Juga:Truk Pengangkut Bondek Tabrak Warung di Tasikmalaya, Kernet Terpental ke SungaiSurveyor Finance di Tasikmalaya Divonis 3 Tahun Penjara, Manipulasi Data 15 Kredit Motor Rugikan Rp367 Juta
“Semoga kita terhindar dari intervensi pihak luar, misalnya partai politik ataupun rezim penguasa daerah yang menitipkan kepentingannya,” katanya.
Ia menilai, kepemimpinan HMI seharusnya lahir dari proses organisasi dan berangkat dari tujuan serta nilai-nilai yang telah dibangun. Bukan sekadar hasil tarik-menarik kepentingan dari luar organisasi.
Jika kepemimpinan ditunggangi kepentingan tertentu, kata Mutaqin, kondisi tersebut berpotensi mengganggu independensi kader dalam menjalankan roda organisasi.
Karena itu, proses pergantian kepemimpinan HMI Cabang Tasikmalaya dinilai perlu dikawal secara objektif.
Sejumlah aspek seperti mekanisme musyawarah, loyalitas terhadap lembaga, rekam jejak organisasi, jenjang kaderisasi hingga regenerasi perlu menjadi pertimbangan.
“Pergantian kepemimpinan harus menjadi bagian dari upaya perbaikan dan perubahan menuju arah yang lebih baik. Jangan sampai kepemimpinan diambil alih oleh orang yang hanya didorong hawa nafsu kepentingan,” tegasnya.
