Mutaqin juga mengingatkan agar perebutan kepemimpinan tidak bergeser menjadi praktik transaksional.
Menurut dia, kepemimpinan dalam organisasi kader tidak semestinya dibangun semata-mata berdasarkan kepentingan sesaat atau dukungan kekuatan dari luar.
Bagi dia, kualitas regenerasi juga tidak cukup diukur dari nama yang tercantum dalam kepengurusan ataupun atribut organisasi yang dikenakan.
Baca Juga:Kemarau Belum Usai, SDN 2 Kersanagara Kota Tasikmalaya Ajak Siswa Menengadah Lewat Salat IstisqaRoket Indonesia Gandeng Everpro, Layanan Kurir Instan JNE Bidik Penguatan UMKM lewat Teknologi
Aktualisasi kader dalam menghadapi persoalan menjadi bagian penting dalam melihat kematangan seorang calon pemimpin.
“Panggung kepemimpinan itu tidak instan. Kompleksitas kedewasaan dan kemapanan seorang kader ditentukan dari bagaimana dia menyikapi persoalan, bukan sekadar mempertentangkan keinginan,” pungkasnya. (rls/firgiawan)
