Nilai pembiayaan yang direstrukturisasi akibat dampak banjir turun menjadi Rp 256 miliar per Maret 2026, atau berkurang 14 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
Perbaikan tersebut terjadi setelah sekitar 50 persen debitur terdampak kembali melakukan pembayaran. Angka ini lebih tinggi dibandingkan perkiraan awal manajemen yang memperkirakan tingkat pemulihan berada pada kisaran 30–40 persen.
Meski demikian, BTPS tetap mengambil langkah konservatif dengan menambah pencadangan sekitar Rp 100 miliar untuk nasabah di wilayah tertentu yang membutuhkan waktu pemulihan lebih panjang.
Baca Juga:Perry Warjiyo Mundur dari BI, Destry Ungkap Alasan Rupiah dan Ekonomi Tetap Aman di Tengah TransisiBukan Cuma Taktik, Ini Senjata Rahasia John Herdman yang Bisa Bawa Timnas Indonesia Taklukkan Kamboja
Pembiayaan Tumbuh, tetapi Margin Pendapatan Masih Tertekan
Dari sisi penyaluran pembiayaan, BTPS masih mencatatkan pertumbuhan meski menghadapi tekanan margin. Pembiayaan pada kuartal I 2026 meningkat 4 persen secara tahunan dan naik 3 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
Namun, pertumbuhan pembiayaan tersebut belum sepenuhnya mampu mengangkat pendapatan margin. Net Margin Income (NMI) masih mengalami kontraksi sekitar 3 persen secara tahunan.
Tekanan margin terjadi karena adanya penundaan pembayaran dari sebagian debitur yang terdampak banjir di Sumatra. Kondisi tersebut membuat kontribusi pendapatan pembiayaan belum optimal.
Manajemen memperkirakan pertumbuhan pembiayaan akan mengalami perlambatan setelah periode Lebaran pada kuartal II 2026. Setelah fase tersebut, ekspansi pembiayaan diproyeksikan kembali meningkat pada semester kedua 2026.
Sebelumnya, BTPS menargetkan pertumbuhan pembiayaan berada pada level high single digit sepanjang 2026, sejalan dengan target pertumbuhan laba bersih.
BTPS Siapkan Ekspansi Pembiayaan Emas pada Semester Kedua 2026
Selain mempertahankan bisnis pembiayaan utama, BTPS juga mulai menyiapkan pengembangan produk baru. Bank ini berencana melakukan uji coba pembiayaan emas pada awal kuartal III 2026.
Program tersebut menjadi bagian dari strategi diversifikasi produk pembiayaan. Namun, manajemen belum memberikan rincian mengenai kebutuhan belanja modal atau capital expenditure (capex) untuk implementasi program tersebut.
Baca Juga:Perry Warjiyo Mundur dari Gubernur BI, Istana Tegaskan Bukan karena Masalah KesehatanBandung Jadi Saksi Kekompakan Ratusan Bikers Honda Vario, Vario Evo 160 Night Ride Berlangsung Meriah
Di sisi pendanaan, BTPS mencatatkan perbaikan dengan penurunan Cost of Fund (CoF) menjadi 3,7 persen pada kuartal I 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan 4 persen pada kuartal IV 2025 dan 4,4 persen pada kuartal I 2025.
Meski demikian, manajemen melihat ruang penurunan biaya dana lebih lanjut semakin terbatas sehingga strategi menjaga efisiensi operasional menjadi faktor penting ke depan.
