TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Upaya pencegahan diabetes melitus (DM) pada anak dinilai tidak cukup hanya mengandalkan layanan kesehatan.
Penguatan kapasitas kader posyandu menjadi strategi penting agar edukasi mengenai pola makan sehat dan aktivitas fisik dapat menjangkau keluarga secara langsung di lingkungan masyarakat.
Tim Pengabdian Masyarakat Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya menerapkan Model Inkola (Informasi, Komunikasi, dan Tata Kelola) kepada 48 kader posyandu di wilayah kerja Puskesmas Cigeureung Kota Tasikmalaya sebagai upaya memperkuat pencegahan diabetes pada anak.
Baca Juga:UMB Bersihkan Dadaha Kota Tasikmalaya dari Sampah, Aksi Nyata Kampus untuk LingkunganSaat Cek Kesehatan Tak Selalu Terjangkau, Demokrat Kota Tasikmalaya Baksos EKG dan Donor Darah Gratis
Tim Pengabdian Masyarakat Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya, Lia Herliana, menjelaskan kader posyandu memiliki posisi strategis karena menjadi ujung tombak edukasi kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat.
“Diabetes pada anak kini menjadi ancaman yang perlu diantisipasi sejak dini. Pencegahannya tidak hanya dilakukan di fasilitas kesehatan, tetapi harus dimulai dari keluarga melalui perubahan pola makan dan aktivitas fisik. Karena itu, kader posyandu kami perkuat agar mampu menjadi komunikator kesehatan yang efektif di lingkungannya,” ujar Lia.
Pelatihan dilaksanakan dalam tiga tahapan. Pertemuan pertama berupa sosialisasi dan pembekalan kepada 48 kader posyandu di Aula Puskesmas Cigeureung pada Jumat (17/7/2026).
Materi yang diberikan meliputi pemahaman diabetes melitus pada anak, konsep Isi Piringku sebagai pedoman gizi seimbang, serta pentingnya aktivitas fisik bagi anak dan remaja.
Menurut Lia, pendekatan Model Inkola tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga melatih kemampuan komunikasi kader agar pesan kesehatan mudah dipahami masyarakat.
“Kader tidak hanya dibekali apa yang harus disampaikan, tetapi juga bagaimana menyampaikannya dengan bahasa sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Harapannya, edukasi lebih mudah diterima oleh para orang tua,” katanya.
Pada pertemuan kedua dan ketiga, peserta mengikuti praktik sekaligus evaluasi kemampuan memberikan pendidikan kesehatan kepada masyarakat.
Baca Juga:Cegah Infeksi Rongga Mulut, Poltekkes Tasikmalaya Tingkatkan Kompetensi Clinical Instructor RSUD dr SoekardjoKejar Retribusi tapi Abai Transparansi, DPRD Kota Tasikmalaya Seperti Tak Dianggap Ada oleh Dishub
Kader diminta mempraktikkan penyuluhan mengenai diabetes pada anak, penerapan konsep Isi Piringku, serta pentingnya aktivitas fisik remaja.
Penilaian dilakukan tidak hanya terhadap ketepatan materi, tetapi juga kemampuan kader membangun komunikasi yang efektif sehingga pesan kesehatan benar-benar dipahami warga.
Lia menilai kader posyandu dipilih sebagai agen edukasi karena memiliki jangkauan luas, hubungan emosional yang kuat dengan masyarakat, serta mampu menjaga keberlanjutan program setelah kegiatan pengabdian selesai.
