Data Tracer Belum Utuh, Keterserapan Lulusan SMK Diyakini Lebih Tinggi

keterserapan lulusan SMK 2026
Siswa SMK saat melaksanakan praktik kerja lapangan di salah satu dealer sepeda motor di Kota Tasikmalaya. (ist)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Target keterserapan lulusan SMK tahun 2026 sebesar 90 persen yang dicanangkan Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Wilayah XII Jawa Barat disambut optimistis oleh Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Kota Tasikmalaya.

Namun, di balik optimisme tersebut, masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, yakni memastikan kondisi lulusan benar-benar tercatat dalam tracer study.

Ketua MKKS SMK Kota Tasikmalaya, Japar Solihin MPd, menilai peluang mencapai target tersebut cukup terbuka. Optimisme itu didasarkan pada kondisi di lapangan yang menunjukkan mayoritas lulusan SMK telah terserap ke dunia kerja, sementara sebagian lainnya memilih berwirausaha atau melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Baca Juga:Defisit APBD Kota Tasikmalaya Membengkak Jadi Rp89,35 MiliarKUA–PPAS 2027 dan Ujian Keberpihakan Anggaran: Apakah Pagu OPD Sudah Mengikuti Prioritas?

“Sebetulnya lulusan-lulusan SMK itu rata-rata sudah bekerja. Kalau pun tidak bekerja, mereka berwirausaha dan sedikit yang melanjutkan ke perguruan tinggi negeri,” ujarnya.

Meski demikian, Japar mengakui kondisi tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam data tracer study. Instrumen pendataan yang digunakan untuk memantau keberlanjutan lulusan itu justru menjadi tantangan tersendiri karena hanya dapat diisi oleh alumni, bukan oleh pihak sekolah.

“Permasalahannya tracer study itu harus diisi oleh siswa yang bersangkutan atau lulusan yang bersangkutan. Tidak bisa diisi oleh kami pihak sekolah,” tuturnya.

Akibatnya, angka keterserapan lulusan yang tercatat berpotensi lebih rendah dibandingkan kondisi sebenarnya. Japar menuturkan, tidak sedikit alumni yang telah bekerja, baik di sektor formal maupun informal, ataupun mulai merintis usaha, belum memperbarui status mereka melalui tracer study sehingga belum masuk dalam pendataan.

Menurutnya, rendahnya partisipasi alumni dipengaruhi berbagai faktor. Di antaranya sebagian lulusan masih merasa kurang percaya diri untuk melaporkan pekerjaannya karena bekerja di sektor informal atau baru merintis usaha.

Di sisi lain, sekolah juga kerap kehilangan kontak dengan alumni yang berganti nomor telepon setelah lulus sehingga proses pendataan menjadi tidak optimal.

“Alumni itu kadang-kadang enggan mengisi tracer study karena mungkin mereka malu bekerja di sektor nonformal. Pada saat mereka berwirausaha juga mungkin baru di awal atau masih belajar,” ungkapnya.

Baca Juga:40 Mahasiswa UBK Tasikmalaya Turun ke Masyarakat, Bawa Inovasi Daun Telang hingga Semprotan Antinyamuk HerbalUnsil Bekali Pemandu Body Rafting Pangandaran dengan Pelayanan Prima dan Digitalisasi

Untuk meningkatkan akurasi data, kata Japar, sekolah terus menyebarluaskan tautan tracer study kepada para alumni serta mengingatkan pentingnya memperbarui informasi setelah lulus.

0 Komentar