TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Kesehatan gigi dan mulut pasien rawat inap masih sering luput dari perhatian di tengah fokus penanganan penyakit utama.
Padahal, kondisi rongga mulut yang tidak terawat dapat menjadi pintu masuk berbagai infeksi hingga menghambat proses pemulihan pasien.
Berangkat dari persoalan tersebut, Tim Dosen Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya menggelar Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) berupa pelatihan Pelayanan Asuhan Kesehatan Gigi dan Mulut Rawat Inap bagi Clinical Instructor (CI) di RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya, pada 7 Mei 2026.
Baca Juga:Kejar Retribusi tapi Abai Transparansi, DPRD Kota Tasikmalaya Seperti Tak Dianggap Ada oleh DishubKrisis Air Bersih Landa Purbaratu Tasikmalaya, Warga Rela Antre hingga Larut Malam Demi 120 Galon Sehari
Kegiatan dipimpin Ketua Tim Pengabdi Tita Kartika Dewi, S.Si.T., M.Kes, bersama anggota Rudi Triyanto, S.Si.T., MDSc dan Winda Fratiwi, S.ST., MM.Kes.
Pelatihan diikuti 30 Clinical Instructor senior yang terdiri atas delapan peserta laki-laki dan 22 peserta perempuan dari unsur Terapis Gigi dan Mulut (TGM) serta perawat.
Ketua Tim Pengabdi, Tita Kartika Dewi, mengatakan pelayanan kesehatan gigi dan mulut bagi pasien rawat inap masih menjadi aspek yang kerap terpinggirkan.
Padahal, kebersihan rongga mulut memiliki peran penting dalam mencegah infeksi sekunder, termasuk infeksi nosokomial pada saluran pernapasan.
“Clinical Instructor memiliki posisi yang sangat strategis. Mereka bukan hanya membimbing mahasiswa praktik di lapangan, tetapi juga menjadi penggerak mutu pelayanan di rumah sakit,” ujar Tita.
“Melalui pelatihan ini kami ingin menyamakan persepsi sekaligus memperkuat kolaborasi antara perawat dan terapis gigi agar pelayanan kesehatan gigi dan mulut pasien rawat inap dilakukan secara terstandar,” sambungnya.
Pelatihan dikemas secara interaktif melalui penyampaian materi berbasis perkembangan ilmu terkini, diskusi kelompok, hingga simulasi pengisian format asuhan kesehatan gigi dan mulut secara interprofesional.
Baca Juga:Tasikmalaya Great Sale Siap Digelar, Bidik Lonjakan Transaksi hingga Wisata BelanjaHari Koperasi 2026! KOPMA UNPER Tebar Kepedulian Sosial, Buktikan Koperasi Tak Hanya Urus Simpan Pinjam
Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman peserta yang cukup signifikan. Sebelum pelatihan, hasil pre-test memperlihatkan 43,3 persen peserta berada pada kategori baik, 50 persen kategori cukup, dan 6,7 persen kategori kurang.
Setelah mengikuti pelatihan, hasil post-test meningkat tajam. Sebanyak 90 persen peserta masuk kategori baik, sementara 10 persen lainnya berada pada kategori cukup. Tidak ada lagi peserta yang berada pada kategori kurang.
Capaian tersebut menjadi indikator bahwa penguatan kapasitas instruktur klinik mampu meningkatkan kompetensi tenaga pembimbing yang nantinya akan berdampak langsung terhadap kualitas pelayanan kesehatan di ruang rawat inap.
