Krisis Air Bersih Landa Purbaratu Tasikmalaya, Warga Rela Antre hingga Larut Malam Demi 120 Galon Sehari

krisis air bersih di Kecamatan Purbaratu
Warga Singkup Purbaratu Kota Tasikmalaya saat mengisi air bersih, Kamis (16/7/2026) sore. istimewa for radartasik.id
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Musim kemarau kembali menguji daya tahan warga di wilayah dataran tinggi Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya.

Saat sebagian orang tinggal membuka keran, warga di Kampung Babakan Singkup justru harus berjibaku mengangkut puluhan galon air setiap hari demi memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga.

Di tengah sulitnya akses air bersih, keberadaan jaringan air swadaya yang dikelola warga menjadi “oase” yang menyelamatkan ratusan kepala keluarga.

Baca Juga:Tasikmalaya Great Sale Siap Digelar, Bidik Lonjakan Transaksi hingga Wisata BelanjaHari Koperasi 2026! KOPMA UNPER Tebar Kepedulian Sosial, Buktikan Koperasi Tak Hanya Urus Simpan Pinjam

Namun, fakta bahwa warga masih harus bolak-balik mengangkut air hingga malam hari menjadi potret bahwa persoalan krisis air belum benar-benar usai.

Ade Kurnia (33), sopir truk sampah asal Kampung Babakan Singkup, mengaku sudah mengambil air sejak awal musim kemarau untuk memenuhi kebutuhan dua keluarga sekaligus mertuanya.

“Tergantung kebutuhan. Kadang bisa sampai 120 galon sehari. Itu dipakai untuk dua hari dan untuk berbagai kebutuhan sehari-hari,” ujar Ade, Kamis (16/7/2026).

Menurutnya, jika menggunakan kendaraan roda tiga (cator), mengangkut sekitar 60 galon masih bisa selesai sebelum Magrib.

Namun karena kini menggunakan sepeda motor, aktivitas mengambil air kerap berlangsung hingga pukul 22.00 WIB.

“Kalau pakai motor begini suka sampai jam 10 malam,” katanya.

Air yang diangkut itu digunakan untuk mandi, mencuci pakaian, mencuci peralatan makan hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.

Bahkan saat kemarau semakin panjang, keluarganya terpaksa mengubah kebiasaan demi menghemat air.

Baca Juga:Edukasi Sikat Gigi Sejak Dini Berbuah Hasil, Pemahaman Anak PAUD di Tasikmalaya MelonjakPAN Kota Tasikmalaya Terus Perkuat Mesin Politik, Budi Mahmud Tekankan Kerja Nyata Bukan Janji

“Kalau lagi halodo begini, istri saya nunggu dulu cucian numpuk satu atau dua keranjang baru dicuci supaya hemat air,” ucapnya.

Ade menuturkan wilayah tempat tinggalnya memang sejak lama kesulitan mendapatkan air bersih karena berada di kawasan dataran tinggi.

Sumur sedalam 38 meter yang dimiliki warga pun sudah mengering.

“Katanya tukang sumur, kalau mau dapat air harus sampai kedalaman lebih dari 140 meter. Biayanya sekarang sumur biasa saja sekitar Rp700 ribu per meter. Mau bikin sumur uangnya dari mana,” ungkapnya.

Karena itu, ia mengaku sangat terbantu dengan adanya penampungan dan jaringan distribusi air swadaya yang dibangun masyarakat.

Keluhan serupa disampaikan Feri, warga lainnya. Hampir setiap hari ia harus bolak-balik mengangkut dua jeriken berkapasitas masing-masing 30 liter.

0 Komentar