“Sehari minimal tiga kali bolak-balik. Kalau hari Jumat bisa sampai tujuh kali karena jadwal mencuci. Bolak-balik seperti ini sampai panas pinggang,” tuturnya.
Sementara itu, pengelola jaringan air bersih RW 09, Edi Supriadi, menjelaskan sistem distribusi air swadaya tersebut telah berjalan sejak 2011 dan hingga kini menjadi tumpuan warga saat musim kemarau.
Menurut Edi, jaringan air itu melayani empat RT di RW 09 yang tersebar di kawasan Babakan Singkup dan sekitarnya.
Baca Juga:Tasikmalaya Great Sale Siap Digelar, Bidik Lonjakan Transaksi hingga Wisata BelanjaHari Koperasi 2026! KOPMA UNPER Tebar Kepedulian Sosial, Buktikan Koperasi Tak Hanya Urus Simpan Pinjam
“Awalnya dua RT, sekarang berkembang menjadi empat RT yang menggunakan air ini,” tambahnya.
Sumber air berasal dari kawasan Cibeureum, Margabakti.
Meski musim kemarau berlangsung, debit air relatif tetap mengalir sehingga masih mampu memenuhi kebutuhan warga.
“Sumber air dari Cibeureum Margabakti. Musim kemarau maupun hujan air tetap mengalir,” jelasnya.
Tak hanya warga Babakan Singkup, jaringan air tersebut juga dimanfaatkan masyarakat dari kawasan Cintamanah, Babakan Nangerang hingga wilayah Purbaratu.
Untuk operasional, warga dikenakan iuran sekitar Rp10 ribu per meter kubik. Dana yang terkumpul dikelola melalui DKM Al Ikhwan.
“Selain untuk operasional dan perawatan jaringan pipa, hasilnya juga dipakai untuk kegiatan syiar keagamaan, pengajian, hingga membantu kebutuhan kitab dan Al-Qur’an di pesantren. Semua dikelola secara swadaya, kami tidak digaji,” jelas Edi.
Ia menambahkan perawatan dilakukan setiap kali terjadi kebocoran. Kondisi jaringan juga diperiksa setiap hari agar distribusi air tetap berjalan.
Baca Juga:Edukasi Sikat Gigi Sejak Dini Berbuah Hasil, Pemahaman Anak PAUD di Tasikmalaya MelonjakPAN Kota Tasikmalaya Terus Perkuat Mesin Politik, Budi Mahmud Tekankan Kerja Nyata Bukan Janji
Di balik derasnya aliran air dari pipa swadaya itu, tersimpan ironi yang belum mengering.
Ketika warga masih harus mengukur setiap tetes air dan menunda jadwal mencuci demi berhemat, persoalan pemerataan akses air bersih masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai di Kota Tasikmalaya. (rezza rizaldi)
