TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Keberadaan sentra kerajinan anyaman bambu di Kampung Situ Beet, Kelurahan Cipari, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, menghadapi tantangan yang kian nyata.
Berkurangnya bahan baku bambu hingga minimnya regenerasi perajin menjadi ancaman bagi keberlangsungan salah satu warisan budaya khas Tasikmalaya tersebut.
Ketua Kibar Budaya 2026, Ucu Anwar, mengatakan Situ Beet selama puluhan tahun menjadi bagian penting dari identitas budaya Kota Tasikmalaya.
Baca Juga:Inggris Tersingkir di Semifinal Piala Dunia 2026, Viman Tepati Janji Push-Up 20 Kali di Nobar DadahaDadaha Dijaga Lebih Ketat, Pemkot Tasikmalaya Perkuat Patroli dan Tata PKL
Namun, perubahan tata ruang dan perkembangan zaman membuat eksistensi kerajinan anyaman bambu berada di persimpangan jalan.
“Persoalan yang paling terasa saat ini adalah semakin sulitnya mendapatkan bahan baku bambu. Alih fungsi lahan membuat rumpun-rumpun bambu yang dulu mudah ditemukan kini semakin berkurang. Akibatnya, para perajin harus mendatangkan bambu dari daerah lain dengan biaya yang lebih mahal,” ujar Ucu, Kamis (16/7/2026).
Menurut dia, persoalan tersebut bukan sekadar soal pasokan bahan baku, tetapi juga berdampak langsung terhadap biaya produksi dan keberlangsungan usaha para perajin.
Jika kondisi itu terus dibiarkan, daya saing kerajinan anyaman bambu dikhawatirkan akan semakin melemah.
Selain itu, Ucu menyoroti persoalan regenerasi yang mulai menjadi “benang kusut” di balik indahnya anyaman bambu Situ Beet.
Semakin sedikit generasi muda yang tertarik meneruskan profesi sebagai pengrajin karena menganggap sektor tersebut belum mampu memberikan kesejahteraan yang memadai.
“Pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mengajak masyarakat mencintai tradisi. Yang lebih penting adalah menciptakan ekosistem yang membuat para pelaku budaya bisa hidup sejahtera dari warisan yang mereka jaga,” katanya.
Baca Juga:Isu Keuntungan Vendor Parkir 5 Persen Mencuat, Kebocoran Setoran Jadi PR Pengelolaan Parkir Kota TasikmalayaGECE 112 kota Tasikmalaya Tambah Fitur, Laporan Darurat Tak Lagi Bergantung Telepon
Ia menilai pelestarian anyaman bambu harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari menjaga ketersediaan bahan baku, memperkuat akses pembiayaan, memperluas pemasaran, mendorong inovasi produk, hingga membangun regenerasi melalui pendidikan dan keterlibatan generasi muda.
Menurut Ucu, budaya tidak akan bertahan hanya karena ramai dipentaskan dalam festival atau seremoni.
Di balik gemerlap panggung, dibutuhkan kebijakan yang benar-benar berpihak kepada pelaku budaya serta perlindungan terhadap lingkungan yang menjadi sumber kehidupan tradisi tersebut.
Karena itu, Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya (DKKT) akan menggelar Kibar Budaya 2026 di Situ Beet pada 25 Juli 2026.
