RADARTASIK.ID – Aktivitas AC Milan pada bursa transfer musim panas mendapat sorotan tajam dari jurnalis Tuttomercatoweb, Ivan Cardia.
Menurutnya, belanja besar yang dilakukan Rossoneri belum tentu menjadi jaminan kesuksesan apabila tidak diimbangi dengan struktur manajemen yang kuat.
Sejauh ini, AC Milan menjadi salah satu klub paling agresif di Italia.
Baca Juga:Jurnalis Italia Sanjung Era Baru Juventus: Duet Carnevali dan Massara Mirip Marotta dan ParaticiMario Gila Pemain Spanyol ke-13 AC Milan: Transfer Dikebut dalam 6 Hari
Rossoneri sukses mengamankan striker Portugal Gonçalo Ramos dengan nilai transfer mencapai 74 juta euro atau sekitar Rp1,48 triliun, belum termasuk bonus.
Tak berhenti di situ, Milan juga hampir merampungkan transfer bek Lazio Mario Gila dengan biaya 30 juta euro atau sekitar Rp600 miliar.
Artinya, total belanja Milan sudah melampaui 100 juta euro, atau lebih dari Rp2 triliun.
Namun menurut Cardia, angka fantastis tersebut bukan jaminan sebuah tim akan meraih gelar.
“Belanja besar tidak selalu berarti kemenangan,” tulisnya.
Ia mengingatkan kembali musim 2017/2018 ketika Milan juga mengeluarkan dana sangat besar untuk mendatangkan banyak pemain.
Pada musim 2017/2018 di era Yonghong Li, AC Milan menggelontorkan dana besar untuk mendatangkan 11 pemain baru dalam proyek yang dijuluki “We Are So Rich”.
Meski diperkuat nama-nama seperti Leonardo Bonucci, Franck Kessié, Hakan Çalhanoğlu, André Silva, dan Lucas Biglia, belanja besar itu gagal mengantarkan Rossoneri meraih kesuksesan.
Baca Juga:Pelatih Swiss Sanjung Gregor Kobel: Pemain Terbaik Sejati Bukanlah Striker, Tapi KiperSwiss Tantang Argentina di Babak Perempat Final, Akhiri Kutukan 72 Tahun
Saat itu Rossoneri justru gagal memenuhi ekspektasi meski menjadi klub paling aktif di bursa transfer.
Cardia menilai persoalan utama Milan bukan terletak pada uang, melainkan pada arah pembangunan klub.
Menurutnya, Rossoneri sebenarnya memiliki kesempatan emas membangun manajemen yang jauh lebih kuat dengan memulangkan Frederic Massara.
Massara bukan sosok asing bagi Milan. Bersama Paolo Maldini, ia menjadi salah satu arsitek kebangkitan Rossoneri hingga kembali menjuarai Serie A.
Cardia bahkan menilai langkah paling ideal adalah memasangkan Massara dengan Giovanni Carnevali, sosok yang kini justru memimpin revolusi di Juventus.
Sayangnya, kesempatan tersebut tidak dimanfaatkan oleh manajemen Milan.
“Itu solusi yang terlalu logis. Justru karena terlalu logis, mereka tidak melakukannya,” sindir Cardia.
Meski demikian, ia tidak meragukan kualitas pemain-pemain yang direkrut Milan.
