Longser Sunda Menunggu Panggung di Tasikmalaya, Bukan Sekadar Tepuk Tangan

sejarah kesenian Longser Sunda
Aksi para seniman Longser Sunda di atas panggung. olah digital / ChatGPT
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Di tengah derasnya arus hiburan digital, ada satu kesenian rakyat Sunda yang justru semakin sunyi terdengar.

Bukan karena kehilangan cerita, melainkan karena perlahan kehilangan panggung.

Longser, teater rakyat yang pernah menjadi denyut kehidupan masyarakat Priangan, kini lebih sering dikenang daripada dipentaskan.

Padahal, jauh sebelum gedung-gedung pertunjukan berdiri megah, Longser sudah lebih dulu mengubah alun-alun, terminal, stasiun hingga persimpangan jalan menjadi ruang kebudayaan.

Baca Juga:APEKSI Jadi Panggung Promosi, Pemerintah Kota Tasikmalaya Bidik InvestasiAliansi PPPK Paruh Waktu Minta Pemkot Tasikmalaya Bijak Sebelum Membuka CPNS

Tak ada kursi VIP, tak ada sekat antara pemain dan penonton. Semua duduk melingkar di bawah cahaya oncor, menikmati kisah yang lahir dari kehidupan sehari-hari.

Secara historis, Longser diyakini telah tumbuh sejak 1915 dan berkembang pesat di Bandung serta wilayah Priangan. Masa kejayaannya berlangsung sekitar dekade 1920-an hingga 1960-an.

Berbeda dengan seni pertunjukan kalangan bangsawan, Longser justru menjadi suara masyarakat kecil, buruh, petani, pedagang hingga warga kampung yang menjadikan panggung sebagai ruang menyampaikan kritik sosial dengan cara menghibur.

Di balik kesederhanaannya, Longser menyimpan filosofi yang kuat. Nama Longser berasal dari dua kata dalam bahasa Sunda, yakni melong yang berarti melihat, dan kaser yang berarti terpikat.

Artinya sederhana tetapi dalam: siapa pun yang melihat pertunjukan ini akan terpikat untuk terus menyaksikannya hingga selesai.

Daya tarik itu lahir dari perpaduan dialog yang jenaka, improvisasi para pemain, musik pengiring yang hidup, hingga kemampuan aktor berinteraksi langsung dengan penonton.

Dalam Longser, batas antara panggung dan penonton nyaris tidak ada. Bahkan celetukan penonton kerap menjadi bagian dari alur cerita.

Baca Juga:PAN Kota Tasikmalaya Bidik Delapan Kursi di Pileg 2029, Soliditas Jadi Kunci UtamaKapolres yang Akan Dirindukan!

Ironisnya, konsep pertunjukan yang kini banyak dipuji sebagai interactive theatre sebenarnya telah lama dipraktikkan Longser.

Bedanya, dunia modern memberi istilah baru untuk sesuatu yang telah hidup di kampung-kampung Sunda sejak lebih dari seabad lalu.

Perjalanan Longser juga tidak lepas dari peran maestro Ateng Japar. Pada 1939, ia mendirikan grup Pancawarna yang berhasil mengangkat derajat Longser dari seni jalanan menjadi pertunjukan yang mampu tampil di gedung kesenian.

Transformasi itu membuktikan bahwa Longser tidak hanya layak dinikmati masyarakat akar rumput, tetapi juga memiliki kualitas artistik yang mampu berdiri sejajar dengan teater modern.

0 Komentar