Longser Sunda Menunggu Panggung di Tasikmalaya, Bukan Sekadar Tepuk Tangan

sejarah kesenian Longser Sunda
Aksi para seniman Longser Sunda di atas panggung. olah digital / ChatGPT
0 Komentar

Namun, setelah wafatnya Ateng Japar pada 2002, popularitas Longser perlahan mengalami kemunduran. Regenerasi pemain berjalan lambat, sementara minat generasi muda semakin terseret derasnya arus budaya populer.

Fenomena tersebut ternyata bukan hanya menjadi perhatian di Indonesia. Akademisi asal University of Gothenburg, Jörgen Hellman, melalui bukunya Performing the Nation: Cultural Politics in New Order Indonesia, menyoroti bagaimana Longser pernah direvitalisasi pada masa Orde Baru.

Penelitian itu menunjukkan bahwa kebudayaan bukan sekadar seni pertunjukan, tetapi juga arena perebutan identitas, kepentingan politik, hingga cara sebuah bangsa memaknai tradisinya.

Baca Juga:APEKSI Jadi Panggung Promosi, Pemerintah Kota Tasikmalaya Bidik InvestasiAliansi PPPK Paruh Waktu Minta Pemkot Tasikmalaya Bijak Sebelum Membuka CPNS

Di tengah tantangan tersebut, secercah harapan kembali muncul dari Kota Tasikmalaya.

Yayasan Silih Anjang Sono bersama Lesbumi PCNU Kota Tasikmalaya akan menggelar pertunjukan teater Tamu Agung, adaptasi karya sastra klasik Nikolai Gogol ke dalam format Teater Rakyat Longser pada Juli 2026 di Lapangan Balai Kota Tasikmalaya.

Pertunjukan yang didukung Indonesiaraya 2025 Kategori Pemanfaatan Ruang Publik dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia itu terbuka gratis bagi masyarakat.

Pemilihan ruang terbuka bukan sekadar soal lokasi, melainkan upaya mengembalikan Longser kepada habitatnya.

Sebab, Longser sejatinya lahir di tengah keramaian masyarakat, bukan di balik tirai panggung yang membatasi jarak antara seniman dan rakyat.

Lebih dari sekadar tontonan, pementasan ini menjadi pengingat bahwa warisan budaya tidak cukup disimpan dalam buku sejarah atau museum.

Ia harus terus dimainkan, ditertawakan, diperdebatkan, bahkan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Baca Juga:PAN Kota Tasikmalaya Bidik Delapan Kursi di Pileg 2029, Soliditas Jadi Kunci UtamaKapolres yang Akan Dirindukan!

Sebab kebudayaan tidak pernah benar-benar mati. Yang lebih sering terjadi, kita terlalu sibuk mencari hiburan baru hingga lupa bahwa panggung lama masih menyimpan cerita yang relevan untuk masa kini. (rezza rizaldi)

0 Komentar