TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – RSUD dr Soekardjo Tasikmalaya kini menghadirkan layanan Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) untuk pasien gagal ginjal. Kendati demikian, kemajuan pelayanan kesehatan ini perlu dibarengi edukasi untuk mencegah dampak infeksi.
Layanan tersebut menjadi yang pertama tersedia di wilayah Priangan Timur dengan tindakan minimal invasif. Kehadirannya menambah pilihan terapi bagi pasien gagal ginjal, terutama bagi mereka yang selama ini harus menjalani hemodialisis secara rutin di rumah sakit.
Melalui CAPD, pasien yang telah mendapatkan edukasi dan dinyatakan mampu dapat melakukan proses cuci darah secara mandiri di rumah. Pola ini membuat pasien tidak harus berulang kali datang ke rumah sakit untuk menjalani terapi, sehingga diharapkan dapat memberi lebih banyak keleluasaan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Baca Juga:Lumba-Lumba Terdampar dan Mati di Pantai Timur PangandaranBeringin Tasikmalaya Mencari Pewaris!
Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung sekaligus Ketua Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Jawa Barat, dr Iwan Abdul Rachman Sp An KNA Mkes, mengatakan penerapan CAPD di RSUD dr Soekardjo merupakan bagian dari upaya memperluas akses layanan dialisis sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien.
“Kita ingin membantu masyarakat bagaimana dengan CAPD masyarakat tersebut tidak perlu bolak balik ke rumah sakit, tapi bisa melakukan tindakan sendiri di rumah sesuai kebutuhannya,” kata Iwan.
Ia menambahkan, kebutuhan terhadap layanan dialisis di Tasikmalaya sendiri cukup besar.
Berdasarkan hasil peninjauan langsung di lokasi, pasien yang menjalani hemodialisis di RSUD dr Soekardjo tidak hanya berasal dari Kota Tasikmalaya, tetapi juga daerah sekitar. Salah satunya berasal dari Kabupaten Garut.
Kondisi tersebut, kata Iwan, menunjukkan bahwa RSUD dr Soekardjo memiliki cakupan pelayanan yang cukup luas. Karena itu, CAPD diharapkan dapat menjadi alternatif bagi pasien yang membutuhkan terapi dialisis sekaligus membantu mengurangi kepadatan layanan hemodialisis di rumah sakit.
Ia mengungkapkan, pengembangan CAPD juga diarahkan untuk memperluas penggunaan metode tersebut sesuai target Kementerian Kesehatan, yakni 10 persen dari pasien yang menjalani dialisis.
Selain memperluas pilihan terapi, penerapan CAPD dinilai dapat membantu menekan beban pembiayaan pelayanan hemodialisis karena sebagian proses terapi dapat dilakukan pasien secara mandiri di rumah.
