SMKN 4 Tasikmalaya Tanamkan Kepedulian Lingkungan dan Budaya Lewat Festival Kokurikuler

Festival Kokurikuler SMK Negeri 4 Tasikmalaya
Siswa SMKN 4 Kota Tasikmalaya menunjukkan karya mereka. (Fitriah Widayanti/radartasik.id)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – SMK Negeri 4 Tasikmalaya menutup tahun pelajaran 2025/2026 dengan menggelar Festival Kokurikuler selama dua hari, Kamis hingga Jumat (25-26/6).

Mengusung tema “Dari Budaya Nusantara Menuju Inovasi yang Berkelanjutan”, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi peserta didik menampilkan karya sekaligus mengimplementasikan hasil pembelajaran berbasis proyek.

Kepala SMK Negeri 4 Tasikmalaya, Dudi Setiadi SPd, mengatakan, tema tersebut dipilih sebagai upaya sekolah mengenalkan kembali sekaligus meregenerasikan kekayaan budaya Nusantara kepada generasi muda.

Baca Juga:Enam Bulan yang Berkesan!Solidaritas untuk Supriadi, Perempuan Pejuang Agraria Titipkan Sepasang Kambing di Polres Tasikmalaya

Menurutnya, budaya tidak hanya perlu dikenalkan, tetapi juga dihidupkan melalui berbagai aktivitas yang melibatkan siswa secara langsung.

Semangat tersebut diwujudkan melalui 20 penampilan seni yang dibawakan seluruh siswa kelas X. Mereka tampil mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah saat mempertunjukkan beragam kesenian Nusantara, mulai dari Tari Jaipongan khas Jawa Barat, Tari Yamko Rambe Yamko dari Papua, hingga penampilan paduan suara yang membawakan lagu Maumere.

Tak hanya menampilkan kekayaan budaya, festival tersebut juga menjadi ajang bagi siswa kelas XI untuk memamerkan berbagai inovasi yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan.

Beragam karya yang dipamerkan memanfaatkan bahan-bahan alami maupun limbah yang diolah menjadi produk bernilai guna dan memiliki potensi ekonomi.

“Dalam inovasi berkelanjutan, kami melihat apa yang dibutuhkan sesuai kondisi saat ini. Karena itu, festival ini dibagi ke dalam empat zona, salah satunya eco living untuk mengedukasi bagaimana menjaga lingkungan agar tetap bersih, nyaman, dan hemat energi,” ujar Dudi.

Ia menjelaskan, konsep eco living selaras dengan nilai Pancawaluya, khususnya aspek cageur atau sehat jasmani dan rohani. Berbagai inovasi lain turut dipamerkan dalam festival kokurikuler ini. Salah satunya pemanfaatan limbah kain perca dan kain bordir yang banyak dihasilkan industri bordir di Kawalu.

Limbah tersebut diolah menjadi ornamen busana yang memiliki nilai estetika sekaligus nilai jual, sehingga diharapkan dapat menjadi bekal keterampilan berwirausaha bagi para siswa.

Baca Juga:Ketua BEM FH UBK Akui Terima Uang Sebelum Unjuk Rasa di Depan Istana, Civitas Kampus Tuntut Sanksi TegasDi Balik Panggung Anniversary STC ke-28: Pasukan Tanpa Honor!

Di zona lain, siswa juga menampilkan beragam produk ramah lingkungan, seperti tas berbahan eco print yang memanfaatkan daun dan getah tumbuhan sebagai pewarna alami pengganti bahan kimia.

0 Komentar