Tim Dosen Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya Latih Kader dan Ibu Hamil Deteksi Dini Bahaya Nifas

Poltekkkes Kemenkes tasikmalaya
Tim Dosen Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya melakukan foto bersama setelah melakukan pengabdian kepada masyarakat di Kelurahan Karsamenak Kecamatan Kawalu Kota Tasikmalaya, Sabtu (20/6/2026). (Fatkhur Rizqi/radartasik.id)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Tim dosen Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya melaksanakan pengabdian kepada masyarakat di Kelurahan Karsamenak, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya, pada Kamis dan Sabtu, 18 dan 20 Juni 2026. Kegiatan ini menyasar 15 ibu hamil serta 24 kader kesehatan sebagai upaya meningkatkan kemampuan deteksi dini tanda bahaya pada masa kehamilan dan nifas.

Tim pengabdian terdiri atas Tetik Nurhayati SKEp Ners MKep, Dewi Aryanti SKep Ners MSc, dan Kusmiyati SKp MKes, yang dibantu mahasiswa Tarfiyani Arifah Harits, Faysa Della Oktavia, Aldiyansyah Ali Yusron, dan Hanna Pebriyanti Hilda Shalihah. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.

Anggota Tim Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya, Dewi Aryanti SKep Ners MSc, mengatakan pelatihan diberikan karena kader kesehatan memiliki peran penting dalam mendeteksi dini risiko yang dialami ibu hamil dan ibu nifas.

Baca Juga:Ketua BEM FH UBK Akui Terima Uang Sebelum Unjuk Rasa di Depan Istana, Civitas Kampus Tuntut Sanksi TegasDi Balik Panggung Anniversary STC ke-28: Pasukan Tanpa Honor!

Menurutnya, kematian ibu tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi diawali dengan munculnya berbagai tanda bahaya selama kehamilan maupun setelah persalinan. Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah preeklampsia dan eklampsia yang ditandai tekanan darah tinggi dan nyeri ulu hati sehingga mengancam keselamatan ibu maupun janin. Risiko tersebut bahkan masih dapat terjadi hingga 42 hari setelah melahirkan.

Karena itu, kader kesehatan perlu memiliki keterampilan memeriksa tekanan darah, mengenali gejala hipertensi, serta memahami pemeriksaan protein dalam urine. Selain itu, ibu hamil juga perlu memahami kondisi kesehatannya sejak sebelum hamil, seperti status gizi, kadar hemoglobin (Hb), dan risiko anemia.

Pada pelatihan pertama, para kader dibekali cara mengukur tekanan darah dan melakukan pemeriksaan urine ibu hamil dengan teknik yang benar. Dewi menjelaskan, banyak kader sebelumnya masih mengambil sampel urine awal, padahal pemeriksaan yang tepat menggunakan urine pertengahan agar hasilnya lebih akurat.

“Kader kesehatan ini perlu tahu, cara pengambilan urine yang bisa hasilnya akurat. Karena memang mereka awalnya biasanya pengambilan urine diambil di awal, ternyata setelah dilakukan pelatihan mereka paham harus diambil pada urine pertengahan,” katanya kepada Radar, Selasa (23/6/2026).

0 Komentar